Hukum & Kriminal

pariwisata kabupaten jember

Sengketa Uniba, Preman Masuk Kampus, 4 Satpam Benjut Dijotosi

  • Rabu, 21 Maret 2018 | 20:05
  • / 4 Rajab 1439
  • Dibaca : 56 kali
Sengketa Uniba, Preman Masuk Kampus,  4 Satpam Benjut Dijotosi
Situasi ketika preman bayaran menghajar Satpam Uniba kampus C

Memontum Banyuwangi — Tragedi dualisme kepemimpinan Rektor Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba) membawa citra buruk di kalangan masyarakat Banyuwangi. Pasalnya Uniba sebagai lembaga pendidikan yang mencetak tenaga pendidik yang intelektual justru kampus dijadikan ajang baku hantam para preman bayaran.

Keberingasan preman bayaran yang diduga suruhan salah satu rektor tersebut, Selasa (20/3/2018) memakan 4 korban Satuan Pengamanan (Satpam) kampus C Uniba dilarikan ke RSUD untuk menjalani perawatan karena luka-luka akibat di bogem oleh preman bayaran.

Adanya preman bayaran masuk kampus ini, menjadikan mahasiswa tidak tenang, mereka tampak syok dan ketakutan akibat kejadian tersebut. Insiden ini berawal dari isu baner yang dipasang kubu kampus B Uniba dicopot kubu kampus C.

“Mereka datang terjadi adu mulut dengan para Satpam mereka (preman) memukuli pak Satpam,” kata sumber ditempat kejadian.

Diduga akibat pencopotan banner tersebut, sebagai pemicu terjadinya aksi main pukul. Dan ada sentimen kelompok Teguh Sumarsono atas terpilihnya Dr Sadi MM sebagai rektor karena di anggap sebagai rektor tunjukan dan tidak melalui dari pihak senat.

Sementara itu Rektor Uniba PGRI Dr Sadi menyayangkan preman yang datang dari Gedung B yang saat ini di kuasai oleh Teguh Sumarsono.

“Ya jangan begitu lah ini yang saya sesalkan ini kok sampai ada tindakan seperti ini, ini kampus tempat pendidikan,“ ujar Sadi.

Sayangnya, hingga berita ini ditulis, Rektor Uniba PGRI Teguh Sumarno, sulit dihubungi, telephon selulernya juga tidak aktif.

Sementara, Mahasiswa Uniba PGRI yang saat itu sedang mengikuti perkuliahan mengaku sangat prihatin atas tragedi ini. Menurutnya, aksi kekerasan yang dilakukan oleh preman dikampus ini, cerminan yang tidak baik.

“Aksi kekerasan ini berbanding terbalik dengan teori yang didapat dalam menempuh ilmu, jika para dosen mengajarkan ilmu pendidikan atau ilmu yang lain, jika ada persoalan hendaknya dilakukan musyawarah, bukan aksi kekerasan atau menyewa preman, yang dampaknya merusak nama baik Uniba PGRI,”ungkap salah satu mahasiswa.
Para Mahasiswa berharap, agar konflik ditubuh Uniba PGRI ini segera diselesaikan, agar mahasiswa menjalan tugas perkuliahan dengan tenang tampa dihingga rasan ketakutan.

“Saya mohon, agar konflik ini diselesaikan dengan kepala dingin, dan jangan ada lagi aksi kekerasan didalam kampus,”pintanya.

Seperti diketahui, Habisnya waktu jabatan Rektor Drs Teguh Sumarno habis masa jabatan tanggal 2 Februari 2018 memunculkan persoalan.

Senat hanya mengajukan nama pilihan satu calon yakni Teguh Sumarno yang sudah menjabat empat periode, sedangkan regulasi maupun status perguruan tinggi hanya membolehkan dua periode.

Akibatbya Ketua Pusat PGRI melakukan penunjukan dan pelantikan pada , Dr. H.Sadi.MM Selaku ketua PPLP-PT PGRI Banyuwangi menjadi Rektor Universitas PGRI Banyuwangi.

Akibat pelantikan Rektor Uniba PGRI, Sadi. Uniba PGRI terbelah menkadi dua, untuk kampus dijalan Ahmad Yani menjadi kampus C dibawah kendali Rektor Uniba Sadi, dan Kampus Kertosari dibawah kendali Rektor Uniba Teguh Sumarno. (but/nay)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional