Hukum & Kriminal

Penerimaan Mahasiswa Baru Politeknik Negeri Malang
space ads post kiri

Bau Menyengat, Warga Kepanjen-Jember Minta Kandang Ditutup

  • Minggu, 25 Maret 2018 | 22:22
  • / 8 Rajab 1439
  • Dibaca : 319 kali
Bau Menyengat, Warga Kepanjen-Jember Minta Kandang Ditutup

Memontum Jember — Puluhan warga Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Sabtu (24/3/2018) siang memasang spanduk agar kandang ayam potong segeera ditutup karena merugikan warga. Pasalnya, kandang tersebut diduga menimbulkan bau menyengat. “Warga tadi menggelar aksi pemasangan spanduk atau banner meminta agar kandang ayam potong itu ditutup, karena menimbulkan bau menyengat dan banyak lalat, serta mengganggu kesehatan. Bahkan warga sudah tiga kali melakukan mediasi dengan pengusaha, namun tetap diindahkan,” kata Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kepanjen Miskat saat ditemui di loksi pemasangan spanduk.

Menurut Miskat, warga tadi menggelar aksi pemasangan banner yang bertuliskan “Kandang Ayam Melanggar Hak Asasi Manusia”. Karena warga sudah tiga kali melakukan mediasi dengan pemilik kandang tahun 2012 di rumah joko warga kepanjen, yang dihadiri oleh warga sekitar kandang dan pengusaha. Hasilnya, warga menuntut tidak ada bau, tidak ada lalat atau penyakit.

“Setelah itu saya limpahkan ke pengusaha, dan pengusaha sanggup untuk menangani, itu hasil rapat. Sehingga warga sepakat untuk dilakukan pengelolaan lagi, dan membiarkan kandang itu beroperasi. Terus tahun 2015 ada lagi pertemuan di rumah pak RW, dan ada kesepakatan untuk tidak menimbulkan apa yang di minta warga. Namun, setelah disepakati lalat dan bau itu tetap ada,” jelasnya.

Warga Kepanjen saat melakukan pemasangan spanduk penolakan kandang ayam

Warga Kepanjen saat melakukan pemasangan spanduk penolakan kandang ayam

Bahkan warga adakan pertemuan besar-besaran di rumah pak kades H.Buchori. Dengan hasil kesepakan, tidak akan menimbulkan bau dan lalat, akhirnya warga tetap memberi peluang. Namun kenyataannya, masih tetap seperti dulu.

“Terus kemarin ini, warga dilobi lagi tidak mau dan warga sudah mentok. Mengharap kandang itu ditutup atau tidak beroperasai lagi. Karena menimbulkan bau menyengat, ribuan lalat yang meresahkan warga. Termasuk penyakit sesak nafas, yang terjadi pada warga. Itu ada warga yang tinggal di utara kandang, itu sangat mengeluh. Sering berobat, setelah dari kandang atau sawahnya, penyakit sesak nafas itu kambuh,” ungkap Miskat.

Bukan hanya itu saja yang di keluhkan warga. Dari bulu ayam yang kecil-kecil itu, bila terkena angin juga mengenai tanaman. “Tanaman menjadi rusak. Semacam jenis tanaman jagung dan padi, itu petani mengeluh semua. Terus juga bila membuang bangkai ayam, itu juga seenaknya, di jalan atau dimana-mana. Jadi lalat terus bertambah,” keluh Miskat.

Miskat sangat berharap, warga berkeinginan agar kandang ayam itu di tutup. Sedangkan disini ada dua pengelola kandang ayam potong, bahkan yang satunya sudah siap untuk di tutup. Karena menurutnya, pengusaha ayam potong yang satunya mengikuti alur warga. Sedang pengusaha yang satunya tidak mau, maunya terus saja beroperasi.

“Pemilik kandang yang di tolak warga ini milik warga desa lain, yaitu Seger warga desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas. Bukan warga desa setempat, sedangkan pengusaha kandang yang setuju di tutup itu warga sini, bahkan sekarang sudah di tutup dan sudah tidak aktif lagi,” ujarnya.

Miskat menilai, pengusaha ini mengadu domba antar warga, dengan adanya tandingan dari warga yang mendukung kandang itu beroperasi. Dia mengaku kalau sampai terjadi bentrok, nanti bagaimana.

“Karena pasti yang dirugikan warga kepanjen, bila sampai terjasi bentrok. Sedangkan pengusahanya enak-enak duduk di rumah, sedangkan warga sini bagaimana. Makanya, kami ingin bermediasi sebaik-baiknya, dengan jalur yang baik. Tidak ingin merugikan salah satu pihak manapun, kan harus seperti itu seharusnya,” tegasnya.

Sementara salah satu warga Mohammad Zainudin mengungkapkan aksi warga, karena diduga kandang ini telah melanggar hak asasi manusia, yang mana setiap warga berhak mendapat lingkungan yang baik dan sehat. Dengan adanya kandang ini, masyarakat merasa udaranya sudah tidak enak. Dimana lalat juga mengganggu makanan masyarakat sekitar, dan dari segi kesehatan juga terganggu.

“Sedangkan untuk jarak darikandang itu, sesuai ketentuan lebih dari 25 meter Dari pemukiman warga. Tetapi yang diketahui, disitu belum ada izin lingkungan atau HO. Termasuk usaha pengelolaan lingkungan, dan usaha pemantauan lingkungan. Sesuai dengan peraturan gubernur No.30 tahun 2011,” terang Zainudin.

Sedangkan yang dikeluhkan warga itu, dari baunya yang menyengat, banyaknya lalat. Bahkan makanan warga sering dikerubung lalat, karena lalatnya sangat luar biasa banyaknya. Sehingga masyarakat merasa sangat resah sekali.

“Warga berharap kandang itu di tutup. Bahkan warga sudah mengajukan penutupan kandang kepada Satpol PP Pemkab Jember, Dinas (Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Dinas Lingkungan Hidup dan dinas peternakan,” pungkas Zainudin. (Lum/nay)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional