Connect with us

Lamongan

Diduga Lakukan Money Politik, Gus Ipul Dilaporkan Warga Lamongan

Diterbitkan

||

Diduga Lakukan Money Politik, Gus Ipul Dilaporkan Warga Lamongan

Memontum Lamongan – Didampingi Sekertaris Tim Pemenangan Tim Khofifah- Emil, Khoirul Huda, salah seorang warga Lamongan bernama Muslich melaporkan Calon Gubenur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau yang sering disebut Gus Ipul ke Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Lamongan karena diduga melakukan money politik saat acara bersama Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Lamongan.

“Kami melaporkan acara di rumah makan Aqila, dimana dalam acara itu paslon gubernur nomor urut 2 mengundang nama PPDI tingkat kecamatan, dikumpulkan di rumah makan Aqila. Disitu acaranya ada yel-yel, ada pidato-pidato, ada nyanyian yang isinya mengajak memilih nomor 2 serta ada bagi-bagi uang,” kata Muslich seusai melapor ke kantor Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Lamongan, jalan Sunan Drajat, Sabtu (2/6/2018).

Dikatakannya, PPDI itu perangkat desa dan termasuk ASN yang tidak boleh terlibat kampanye. “Harusnya memberi contoh yang baik. Apalagi disitu ada dugaan bagi-bagi uang,” ucap Muslich.

Saat membuat laporan kantor Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Lamongan, Ia juga menyebutkan telah membawa sejumlah barang bukti diantaranya berupa rekaman video dan sejumlah foto. “Di situ ada bagi-bagi uang, yang terekam di video itu uang 20.000 rupiah. Entah satu orang dapat berapa, tapi yang terekam itu pecahan 20.000,” ungkapnya.

Di sisi lain, Sekertaris Pemenangan Pasangan Khofifah-Emil di Lamongan, Khoirul Huda berharap agar Panwalu Lamongan segera menindaklanjuti laporan tersebut. “Kita berharap, Panwas segera menindaklanjuti laporan itu karena ada dugaan pelanggaran pemilu, ” tegasnya pada sejumlah awak media di depan Kantor Panwaskab Lamongan.

Sebenarnya, lanjut Huda, panggilan Khoirul Huda, banyak sekali relawan yang ingin melaporkan berkenaan dengan acara PPDI di rumah makan Aqila tersebut .“Namun karena masalah sama, jadi saat ini saya menganyarkan salah satu saja untuk melaporkan kejadian itu,” ungkap Huda.

Sementara itu, Ketua Panwaskab Lamongan, Toni Wijaya, menjelaskan pihaknya akan menangani laporkan tersebut sesuai dengan aturan yang berlaku. “Laporan tersebut akan diproses sesuai dengan mekanisme perundang-undangan,” tegasnya. (ifa/zen/yan)

Hukum & Kriminal

Bengawan Solo Longsor, Puluhan Warga Lamongan Kehilangan Tempat Tinggal

Diterbitkan

||

oleh

Rumah warga desa Laren kabupaten Lamongan yang diambang longsor di bantaran Bengawan Solo

Memontum Lamongan – Kurang lebih dalam kurun waktu satu minggu, 23 warga di Dusun Gendong, Desa Laren, Kabupaten Lamongan, kehilangan tempat tinggal akibat tergerus erosi longsor bengawan solo.

Data yang diperoleh menyebutkan, bantaran sungai Bengawan Solo yang longsor mengakibatkan sebanyak tujuh rumah yang tidak bisa dijadikan tempat tinggal. Ketujuh rumah yang rusak parah tersebut adalah milik Aisah, Marwan, Mustofa, Kasmadi, Sumartun, Harmaji dan Asma’un.

Selain itu, sebuah mushola juga tidak bisa digunakan. Kini puluhan rumah warga yang lain juga terpaksa harus dibongkar. Demikian ini agar ikut hanyut bersama material tanah saat terjadinya longsor susulan.

Kepala Dusun Gendong, Muntholib mengatakan, longsor yang terjadi di bantaran Sungai Bengawan Solo tersebut hingga kini terus meluas, Semula sepanjang 500 meter menjadi 600 meter dengan kedalaman mencapai 10 meter

“Tidak ada rumah warga yang ikut hanyut saat terjadinya longsor, hanya mengalami kerusak saja. Agar tidak hanyut warga berinisiatif membongkar dan mengevakuasi perabot rumah tangga ketempat yang lebih aman,” katanya. Sabtu (21/9/2019)

Meski begitu, warga dihantui ketakutan dan memutuskan untuk sementara numpang tinggal di rumah kerabat terdekat. “Mereka terpaksa mengungsi di rumah sanak saudara mereka masing-masing, untuk sementara waktu. Sebagian diantaranya membuat rumah semi permanen di tanah desa.”ungkap Muntholib.

Muntholib, menambahkan. Sebagian warga masih bertahan di rumah yang berpotensi longsor susulan, Padahal membahayakan. karena bisa merobohkan tempat tinggal mereka.

Untuk mengantisipasi terjadinya korban jiwa, ratusan warga yang saat ini masih tinggal di lokasi rawan longsor, diminta untuk tetap waspada.

“Ada yang masih tinggal, soalnya kalau pindah tidak tahu kemana,” keluhnya.

Warga hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah dan pihak Bengawan Solo turun tangan membantu korban terdampak longsor. (son/sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Jelang Shalat Maghrib, Rumah Mbah Poni Janda Tua Ambruk

Diterbitkan

||

oleh

Mbah Poni (85) saat menerima santunan dari warga, atas musibah rumahnya yang ambruk

Memontum Lamongan – Nahas menimpa nasip Mbah Poni (85), janda tua warga Dusun Pilang Desa Gedangan Kecamatan Sukodadi Kabupaten Lamongan. Ketika hendak mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib, tiba tiba rumah yang di tempatinya tiba-tiba ambruk. Sabtu (21/9/2019) Sore kemarin.

Mulyadi (60) warga Desa Gedangan kepada awak media mengatakan, awal mulanya kejadian rumah ambruk itu pada waktu sore hari menjelang Maghrib, tidak ada hujan dan angin tahu-tahu rumah milik Mbah Poni ambruk seketika itu rata dengan tanah.

” Rumah itu adalah rumah zaman dahulu yang masih berdindingkan bambu serta beralaskan tanah, belum ada renovasi apapun, sewaktu ambruk kemarin sempat mengenai beliaunya, namun tidak sampai fatal,” ujar Mulyadi, Minggu (22/09/2019).

Dia menjelaskan, Mbah Poni memang tergolong orang miskin janda tua yang tidak mempunyai satupun seorang anak sama sekali, beliuanya setiap hari untuk makan hanya dari belas kasihan warga setempat.

“Atas musibah yang menimpanya, kami beserta warga lainnya menggalang dana untuk kemudian di berikan sebagai rasa kemanusiaan dan ikut prihatin, namun dengan jumlah yang sekedarnya,” tuturnya.

Saat ini, sambung Mulyadi, warga Gedangan dan tetangga terdekat juga ikut gotong royong untuk membantu mendirikan rumah yang ambruk tersebut, namun hanya sebatas tiangnya saja yang bisa kami bantu.

” Untuk atap yang berasal dari genting di mungkinkan sudah tidak bisa di pakai lagi, karena sudah pecah semua, sebagian untuk yang kayu atau bambu (gedek) masih ada yang bisa digunakan,” terangnya.

Dia mengatakan, semestinya Pemerintah Desa Gedangan tanggap akan keadaan Mbah Poni yang selama bertahun-tahun hidup dalam garis kemiskinan, dengan kondisi rumah yang hampir roboh.

” Seharusnya di data dan di ajukan ke Dinas terkait melalui Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) agar di lakukan bedah rumah atau bantuan sejenisnya,” ungkapnya.

Mulyadi menambahkan, Pemerintah Desa Gedangan terkesan cuek dengan keadaaan atau kesenjangan sosial yang menimpa warganya, khususnya bagi kaum dhuafa yang benar-benar layak untuk mendapatkan uluran tangan kita.

Terpisah, Kabid Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Dinas Sosial Kabupaten Lamongan, Subandiyah, saat di konfirmasi melalui WhatsApp, berkaitan dengan musibah rumah ambruk yang menimpa Mbah Poni warga Dusun Pilang Desa Gedangan Kecamatan Sukodadi, belum memberikan tanggapan apapun. WhatsApp sudah di baca namun belum ada balasan dari beliaunya. (son/sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Semalam, 4 Rumah di Perumahan di Lamongan Disatroni Maling

Diterbitkan

||

oleh

Semalam, 4 Rumah di Perumahan di Lamongan Disatroni Maling

Memontum Lamongan – Salah satu perumahan di Lamongan kembali diobok-obok maling. Tak tanggung-tanggung, dalam semalam maling beraksi di empat rumah. Menurut Informasi yang dihimpun menyebutkan, perumahan yang disatroni pencuri adalah Perumnas Sukomulyo Kelurahan Sukomulyo Kecamatan Lamongan. Pelaku berhasil menggondol uang, barang elektronik dan benda pusaka di tiga rumah.

Kapolsek Kota Lamongan, AKP Budi Santoso mengatakan, empat rumah yang jadi sasaran maling itu di antaranya rumah Sugeng di Jalan Bandeng 9. Dia merelakan uang celengan anaknya dan benda pusaka berupa keris dicuri.

Rumah lainnya, kata kapolsek, milik Jamil yang berhasil menggondol uang tunai Rp 6 juta, 2 buah HP dan tas milik Jamil. Dua rumah lainnya adalah rumah Mugito, seorang PNS di lingkungkan Pemkab Lamongan dan membawa kabur laptop dan lainya rumah Khusnul.

“Di rumah Khusnul ini pelaku tidak sampai berhasil membawa barang apapun. Karena terpergok anak pemilik rumah,” jelas Budi.

Salah satu korban, Jamil mengaku, uang sebesar Rp 6 juta yang digondol pencuri sebenarnya uang sekolah yang sedianya akan disetorkan ke sekolah hari ini. Pencuri, kata Jamil, mengacak-acak tas istrinya dan hanya menyisakan amplop dan rincian keuangan sekolah istrinya yang berceceran di lantai rumah bersama sejumlah surat-surat lainnya.

“Pelaku kelihatannya masuk melalui jendela depan setelah berhasil memanjat pagar rumah saya,” ungkap Jamil.

Sementara itu usai menerima laporan warga, polisi langsung mendatangi rumah korban dan melakukan olah TKP di 4 rumah yang menjadi sasaran pelaku. Polisi mengamankan alat bukti berupa sepasang sandal di rumah Jamil.

“Kami menggelar olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi korban,” pungkasnya. (Lai/zen/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler