Connect with us

Lamongan

Puluhan Warga Gintungan Serbu Kantor Kejari Lamongan

Diterbitkan

||

Puluhan Warga Gintungan Serbu Kantor Kejari Lamongan

Desak Usut Dugaan Penyalahgunaan DD

 

Memontum Lamongan – Puluhan warga Desa Gintungan Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan, Senin (30/7/2018) menggelar aksi demo di depan kantor Kejaksaan Negeri Lamongan. Mereka mendesak agar Kejaksaan mengusut tuntas dugaan penyalahgunaan Dana Desa (DD) di Desa Gintungan yang dilakukan oleh Kepala Desanya.

Saat melakukan aksi tersebut, selain berorasi warga juga membentangkan sejumlah poster yang diantaranya bertuliskan desakan agar Kejaksaan mengusut dugaan korupsi tersebut, masyarakat Gintungan butuh keadilan, serta adili Tarno (Kades).

Aksi sejumlah warga tersebutpun mendapat respon dari pihak Kejaksaan Negeri Lamongan. Sejumlah perwakilan warga diajak melakukan dialog dengan pihak Kejaksaan bersama dengan perwakilan Inspektorat Lamongan dan Bankesbangpollinmas Lamongan.

“Diantara dugaan penyalahgunaan Dana Desa (DD) tersebut adalah terkait pembangunan jalan desa yang seharusnya dirabat beton tapi dibangun rendemix,” kata Kepala Dusun Gintungan, Yusro Susanto, Senin (30/7/2018) saat dialog tersebut.

Dugaan korupsi lainya, lanjut Yusro Susanto, pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT). “Intinya kami berharap agar dugaan tersebut diusut tuntas. Demi pembangunan di desa,” ungkapnya.

Di sisi lain, perwakilan dari Inpektorat Kabupaten Lamongan, menjelaskan pada perwakilan warga Gintungan bahwa dugaan penyalahgunaan dalam pembangunan Dusun Gitungan sudah diproses di Inspektorat.

“Dari proses audit tersebut ditemukan anggaran yang harus dikembalikan oleh Kades Tarno ke kas negara, dalam hal ini kas desa sebesar Rp 20 juta. Dan hal ini sudah dilakukan oleh kepala desa tersebut,” ungkap perwakilan Inspektorat Lamongan, Suwadji.

Sementara itu, Kasi Intel, Dino Kriesmiardi, menegaskan, bila warga menemukan atau menengarahi ada dugaan penyalahgunaan Dana Desa (DD) lainya, maka warga dimohon untuk melakukan laporan pengaduan lagi. “Saya kira dugaan penyalahgunaan dalam pembangunan jalan desa sudah diproses di Inspektorat. Dan jika ada dugaan lainya, maka kami berharap warga melakukan laporan pengaduan lagi, “ kata Dino yang juga memaparkan pengaduan tersebut akan dijadikan bahan pihak Kejaksaan untuk melakukan langka selanjutnya, termasuk proses hukum.

Sedangkan Kepala Bankesbangpollinmas Lamongan, Sudjito, menyebutkan dalam waktu dekat pihaknya berencana mempertemukan pihak Kecamatan Kembangbahu, pihak Pemerintah Desa Gintungan dan Ketua Karang Taruna untuk menyelesaikan persoaalan di Desa Gintungan. “Kami berharap dalam pertemuan tersebut, semua pihak hadir sehingga masalahanya secepatnya terselesaikan,” tutur Sudjito.

Usai melakukan dialog dengan pihak Kejaksaan, perwakilan Inspektorat, dan perwakilan Bakesbanglinmas Kabupaten Lamongan ini puluhan warga tersebut kemudian membubarkan diri dengan tertib. Aksi merekapn mendapat kawalan ketat dari Kepolisian Resort Lamongan. (ifa/zen/yan)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Bengawan Solo Longsor, Puluhan Warga Lamongan Kehilangan Tempat Tinggal

Diterbitkan

||

oleh

Rumah warga desa Laren kabupaten Lamongan yang diambang longsor di bantaran Bengawan Solo

Memontum Lamongan – Kurang lebih dalam kurun waktu satu minggu, 23 warga di Dusun Gendong, Desa Laren, Kabupaten Lamongan, kehilangan tempat tinggal akibat tergerus erosi longsor bengawan solo.

Data yang diperoleh menyebutkan, bantaran sungai Bengawan Solo yang longsor mengakibatkan sebanyak tujuh rumah yang tidak bisa dijadikan tempat tinggal. Ketujuh rumah yang rusak parah tersebut adalah milik Aisah, Marwan, Mustofa, Kasmadi, Sumartun, Harmaji dan Asma’un.

Selain itu, sebuah mushola juga tidak bisa digunakan. Kini puluhan rumah warga yang lain juga terpaksa harus dibongkar. Demikian ini agar ikut hanyut bersama material tanah saat terjadinya longsor susulan.

Kepala Dusun Gendong, Muntholib mengatakan, longsor yang terjadi di bantaran Sungai Bengawan Solo tersebut hingga kini terus meluas, Semula sepanjang 500 meter menjadi 600 meter dengan kedalaman mencapai 10 meter

“Tidak ada rumah warga yang ikut hanyut saat terjadinya longsor, hanya mengalami kerusak saja. Agar tidak hanyut warga berinisiatif membongkar dan mengevakuasi perabot rumah tangga ketempat yang lebih aman,” katanya. Sabtu (21/9/2019)

Meski begitu, warga dihantui ketakutan dan memutuskan untuk sementara numpang tinggal di rumah kerabat terdekat. “Mereka terpaksa mengungsi di rumah sanak saudara mereka masing-masing, untuk sementara waktu. Sebagian diantaranya membuat rumah semi permanen di tanah desa.”ungkap Muntholib.

Muntholib, menambahkan. Sebagian warga masih bertahan di rumah yang berpotensi longsor susulan, Padahal membahayakan. karena bisa merobohkan tempat tinggal mereka.

Untuk mengantisipasi terjadinya korban jiwa, ratusan warga yang saat ini masih tinggal di lokasi rawan longsor, diminta untuk tetap waspada.

“Ada yang masih tinggal, soalnya kalau pindah tidak tahu kemana,” keluhnya.

Warga hanya bisa pasrah dan berharap pemerintah dan pihak Bengawan Solo turun tangan membantu korban terdampak longsor. (son/sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Jelang Shalat Maghrib, Rumah Mbah Poni Janda Tua Ambruk

Diterbitkan

||

oleh

Mbah Poni (85) saat menerima santunan dari warga, atas musibah rumahnya yang ambruk

Memontum Lamongan – Nahas menimpa nasip Mbah Poni (85), janda tua warga Dusun Pilang Desa Gedangan Kecamatan Sukodadi Kabupaten Lamongan. Ketika hendak mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib, tiba tiba rumah yang di tempatinya tiba-tiba ambruk. Sabtu (21/9/2019) Sore kemarin.

Mulyadi (60) warga Desa Gedangan kepada awak media mengatakan, awal mulanya kejadian rumah ambruk itu pada waktu sore hari menjelang Maghrib, tidak ada hujan dan angin tahu-tahu rumah milik Mbah Poni ambruk seketika itu rata dengan tanah.

” Rumah itu adalah rumah zaman dahulu yang masih berdindingkan bambu serta beralaskan tanah, belum ada renovasi apapun, sewaktu ambruk kemarin sempat mengenai beliaunya, namun tidak sampai fatal,” ujar Mulyadi, Minggu (22/09/2019).

Dia menjelaskan, Mbah Poni memang tergolong orang miskin janda tua yang tidak mempunyai satupun seorang anak sama sekali, beliuanya setiap hari untuk makan hanya dari belas kasihan warga setempat.

“Atas musibah yang menimpanya, kami beserta warga lainnya menggalang dana untuk kemudian di berikan sebagai rasa kemanusiaan dan ikut prihatin, namun dengan jumlah yang sekedarnya,” tuturnya.

Saat ini, sambung Mulyadi, warga Gedangan dan tetangga terdekat juga ikut gotong royong untuk membantu mendirikan rumah yang ambruk tersebut, namun hanya sebatas tiangnya saja yang bisa kami bantu.

” Untuk atap yang berasal dari genting di mungkinkan sudah tidak bisa di pakai lagi, karena sudah pecah semua, sebagian untuk yang kayu atau bambu (gedek) masih ada yang bisa digunakan,” terangnya.

Dia mengatakan, semestinya Pemerintah Desa Gedangan tanggap akan keadaan Mbah Poni yang selama bertahun-tahun hidup dalam garis kemiskinan, dengan kondisi rumah yang hampir roboh.

” Seharusnya di data dan di ajukan ke Dinas terkait melalui Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) agar di lakukan bedah rumah atau bantuan sejenisnya,” ungkapnya.

Mulyadi menambahkan, Pemerintah Desa Gedangan terkesan cuek dengan keadaaan atau kesenjangan sosial yang menimpa warganya, khususnya bagi kaum dhuafa yang benar-benar layak untuk mendapatkan uluran tangan kita.

Terpisah, Kabid Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) Dinas Sosial Kabupaten Lamongan, Subandiyah, saat di konfirmasi melalui WhatsApp, berkaitan dengan musibah rumah ambruk yang menimpa Mbah Poni warga Dusun Pilang Desa Gedangan Kecamatan Sukodadi, belum memberikan tanggapan apapun. WhatsApp sudah di baca namun belum ada balasan dari beliaunya. (son/sgg/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Semalam, 4 Rumah di Perumahan di Lamongan Disatroni Maling

Diterbitkan

||

oleh

Semalam, 4 Rumah di Perumahan di Lamongan Disatroni Maling

Memontum Lamongan – Salah satu perumahan di Lamongan kembali diobok-obok maling. Tak tanggung-tanggung, dalam semalam maling beraksi di empat rumah. Menurut Informasi yang dihimpun menyebutkan, perumahan yang disatroni pencuri adalah Perumnas Sukomulyo Kelurahan Sukomulyo Kecamatan Lamongan. Pelaku berhasil menggondol uang, barang elektronik dan benda pusaka di tiga rumah.

Kapolsek Kota Lamongan, AKP Budi Santoso mengatakan, empat rumah yang jadi sasaran maling itu di antaranya rumah Sugeng di Jalan Bandeng 9. Dia merelakan uang celengan anaknya dan benda pusaka berupa keris dicuri.

Rumah lainnya, kata kapolsek, milik Jamil yang berhasil menggondol uang tunai Rp 6 juta, 2 buah HP dan tas milik Jamil. Dua rumah lainnya adalah rumah Mugito, seorang PNS di lingkungkan Pemkab Lamongan dan membawa kabur laptop dan lainya rumah Khusnul.

“Di rumah Khusnul ini pelaku tidak sampai berhasil membawa barang apapun. Karena terpergok anak pemilik rumah,” jelas Budi.

Salah satu korban, Jamil mengaku, uang sebesar Rp 6 juta yang digondol pencuri sebenarnya uang sekolah yang sedianya akan disetorkan ke sekolah hari ini. Pencuri, kata Jamil, mengacak-acak tas istrinya dan hanya menyisakan amplop dan rincian keuangan sekolah istrinya yang berceceran di lantai rumah bersama sejumlah surat-surat lainnya.

“Pelaku kelihatannya masuk melalui jendela depan setelah berhasil memanjat pagar rumah saya,” ungkap Jamil.

Sementara itu usai menerima laporan warga, polisi langsung mendatangi rumah korban dan melakukan olah TKP di 4 rumah yang menjadi sasaran pelaku. Polisi mengamankan alat bukti berupa sepasang sandal di rumah Jamil.

“Kami menggelar olah TKP dan meminta keterangan sejumlah saksi korban,” pungkasnya. (Lai/zen/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler