Connect with us

Kabupaten Malang

Bayi Perempuan Terbalut Sajadah Selamat, Bayi Laki-laki dalam Kresek di Sungai Tewas

Diterbitkan

||

Bayi Perempuan Terbalut Sajadah Selamat, Bayi Laki-laki dalam Kresek di Sungai Tewas

Memontum Malang – Sehari, Minggu (5/11/2017) pagi, dua bayi ditemukan di wilayah hukum Pakisaji. Satu kondisi hidup dalam Kardus depan rumah warga Kendalpayak, satu tewas ditemukan terhanyut di aliran drainase pinggir jalan Segaran Pakisaji.

“Bayi perempuan kondisi sehat. Kini dirawat bidan desa. Satu ditemukan meninggal di aliran sungai kecil Desa Genengan, ” urai Kapolsek Pakisaji, AKP Suyoto, mendampingi Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung kepada memontum.com

DIGENDONG : AKP Suyoto gendong bayi. (Foto Humas Polres Malang)

DIGENDONG : AKP Suyoto gendong bayi. (Foto Humas Polres Malang)

.

Pagi, pukul 06.30, geger seputaran Jalan Raya Segaran RT04/RW09, Desa Kendalpayak, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Mumuh Muhsinin (38) terkejut melihat kardus mencurigakan di atas kursi bambu.

Sebelumnya ia diberitahu Mudayati (34). Saat kardus dibuka pertama kali disaksikan sejumlah warga, tampak bayi ditutupi kain jarik cokelat dan sajadah cokelat hitam. Ari-ari atau tali pusarnya masih panjang. Ada handuk putih juga.

IDENTIFIKASI : petugas di lokasi temuan dekat aliran sungai kecil Genengan. (Foto Humas Polres Malang)

IDENTIFIKASI : petugas di lokasi temuan dekat aliran sungai kecil Genengan. (Foto Humas Polres Malang)

Info itu kemudian dilanjutkan ke ketua RW dan berlanjut ke perangkat desa serta pihak kepolisian. “Kondisi tertutup. Cuma feeling saya. Isinya bayi. Antara hidup atau mati. Dibuka setelah banyak warga,” cerita Mumuh pada wartawan.

Bayi perempuan lalu diboyong ke bidan desa, Siti Maisyaroh. “Panjang 51 cm, bobot 3 Kg. Usianya baru satu ha. Kondisinya sehat, sekarang masih diobservasi, masih dipantau. Sepertinya gak ada masalah,” terang Siti Masiyaroh saat ditemui wartawan.

Hampir bersamaan, pukul 08.00, kembali ditemukan bayi. Namun, kondisinya tinggal jasad. Naas, bayi laki-laki terlihat di aliran sungai pinggir jalan Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Pagi itu, bayi terbungkus tas kresek hitam.

Pertama kali dilihat Abdul Mukhid (65) saat berjalan di pinggir aliram sungai menuju tempat cucian mobil Karya Jaya. Ia melihat tas tampak berisi boneka. Baunya menyengat saat didekati. Ia pun memberitahu Miskan (66) warga Sumur Bor RT04/ RW01, Desa Genengan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Keduanya lalu mengevakuasi ke atas jalan. Informasi temuan jasad bayi lalu diketahui Polsek Pakisaji dan Polres Malang. Hadir anggota Unit Reskrim Polres Malang beserta tim identifikasi Polres Malang. Baik temuan bayi hidup maupun bayi mati, kini dalam penyelidikan pihak kepolisian. (sos)

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Warga Wadung Pakisaji Cari Keadilan

Diterbitkan

||

oleh

Moch Shodiq Cari Keadilan. (sur)

Memontum Malang – Bermula dari sengketa lahan, Moch Sodiq warga RT20/RW05 Desa Wadung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang harus menjalani kasasi di MA. Sesuai keputusan PN Kepanjen tanggal 11-Juli 2019 nomor : 267/PID.8/2019, Shodiq dipidana selama 1 tahun. Namun, kata Shodiq, semua itu penuh ketidakadilan dalam prosesnya.

Sebagai bahan acuhan, Shodiq juga kantongi SHM nomor 5 atas nama pemilik. Selanjutnya ada alat bukti tanaman tebu yang tingginya lebih dari 1 meter dan itu tidak sesuai fakta di lapangan.

Selanjutnya, lahan itu dia buldoser, dua hari setelah tebang tebu. Anehnya, alat bukti tebu yang ditunjukkan di pengadilan tidak pernah dicantumkan dalam gelar perkara di Polres Malang. Begitu juga dengan bukti letter C Desa no 476 ternyata sudah dicabut oleh Kepala Desa.

Lanjut Shodiq seperti tertulis dalam surat pernyataannya tanggal 25-September 2019, laporan perdata tanggal 4-3-2019 pidana tanggal 11-4-2019 ternyata putusan lebih dulu pidananya bahkan Hakim ketua dan anggotanya, pidana dan perdata sama. Ada juga 4 saksi yang kini dalam proses laporan ke Polres Malang.

Ditemui Memontum.com di Kepanjen Kamis (26/9/2019) kemarin, Shodiq menjelaskan kilas kronologis kejadian. Awalnya dari sengketa lahan dengan Imam Jazuli tahun 2012 silam. Dari jumlah luas lahan 1200 meter itu sudah bersertifikat atas nama Basir orang tua Sodiq.

“Tanah yang bermasalah itu separuh dari luas 1200 meter itu.Tahun 1998 tanah itu diambil paksa oleh Jaiz dengan penuh ancaman. Awalnya tanah itu dipinjam. Yang jelas, dalam permasalahan ini kami mencari keadilan, ” pungkasnya. (sur/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Kasus Foto Bugil Istri Siri Berakhir Damai

Diterbitkan

||

oleh

SW Saat Lapor ke Polres Malang Beberapa Waktu lalu. (dok)

Memontum Malang – Tim tujuh yang dibentuk oleh Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Malang untuk melakukan investigasi sekaligus tabayyun terhadap kasus aduan yang dilayangkan oleh SW terhadap suami sirinya Kuncoro yang merupakan Kader dari partai belambang bumi dan sembilan bintang itu.

“Permasalahan tersebut sudah selesai. Kedua belah pihak sudah memutuskan untuk berdamai,” ucap salah satu personel Tim 7 Rabu (25/9/2019) kemarin.

Menurutnya, permasalahan ini mencuat kemungkinan karena Kuncoro merasa sakit hati,yang akhirnya nekat melaporkan istri sirinya sendiri ke Polres Malang atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan sejumlah uang.

“Kuncoro sempat melaporkan SW. Dengan adanya laporan tersebut, akhirnya SW melakukan serangan balik dengan mengadukan Kuncoro atas dugaan kasus penyebaran foto bugil dan perzinaan ke Polres Malang dan Kantor DPC PKB Kabupatn Malang,” tambahnya.

Baca : Kirim Foto Bugil, Oknum Anggota Dewan Kabupaten Malang Diadukan ke Polisi

Sementara itu, Ketua Tim 7 DPC PKB Kabupaten Malang, Agus Salim mengantakan, jika pihaknya telah melakukan investigasi terkait permasalahan ini. Hasil investigasi sudah diserahkan ke Dewan Syuro dan Ketua DPC PKB Kabupaten Malang, Ali Ahmad.

“Dari tim tujuh telah melakukan investigasi dan tabayyun, hasilnya sudah kami serahkan kepada Dewan Syuro. Informasinya Dewan Syuro sudah menginstruksikan keduanya untuk berdamai dan mencabut berkas aduan mereka masing-masing,” pungkasnya. (Sur/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Konflik Perusakan Karet Pancursari Berlanjut ke Polisi

Diterbitkan

||

oleh

Aksi massa di lahan karet. (dok)

Memontum Malang – Pengrusakan sebanyak 54.800 bibit tanaman karet milik PTPN XII Pancursari Kabupaten Malang berlanjut laporan Polisi. Hal itu setelah aksi massa terjadi di lahan sengketa antara warga Desa Tegalrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Sabtu (21/9/2019) lalu.

“Akibat aksi massa itu bibit tanaman karet kami yang mati sebanyak 54.800 batang. Total kerugian lebih dari Rp 193 juta,” ungkap Manager PTPN XII Pancursari, Hendro Prasetyo, Senin (23/9/2019) siang.

Kata Hendro, massa berjumlah 150 hingga 200 orang masuk ke afdeling Bumirejo, blok Bedengan atau tempat bibit tanaman karet.

“Luas di blok bedengan bibit karet ini 2 hektar. Aksi massa merusak bibit karet mulai dari ukuran kecil sampai besar. Bibit karet yang kecil dicabuti. Bibit karet dalam polibag dirusak. Sementara bibit karet berukuran besar disemprot dengan racun,” beber Hendro.

Lanjutnya, bibit tanaman karet yang mati dan dirusak massa sudah masuk blok bedengan sejak Januari 2019 lalu. “Umur bibit karet yang mati ini mulai umur 6 bulan sampai 9 bulan. Rencananya akan kami tanam tahun ini sesuai program dari perusahaan,” ujarnya.

Baca : Konflik Lahan PTPN XII Pancursari Memanas

Tambah Hendro, pasca kejadian ini, pihaknya akan menyerahkan langkah sepenuhnya pada proses hukum.

“Kita proses sesuai hukum. Pasal-pasal apa saja yang disangkakan dalam kejadian ini ke Polres Malang. Termasuk kita upayakan mediasi lagi dengan DPRD. Untuk siapa terlapornya, masih dilakukan gelar perkara di Polres Malang.Karena pada saat kejadian, juga ada BKO dari Brimob dan anggota Polres Malang. Kami tetap menunggu petunjuk dari Polres,” pungkas Hendro. (tim/oso)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler