Connect with us

Lumajang

Proyek Miliaran ‘Mangkrak’ Ketua Komisi B DPRD Lumajang Angkat Bicara

Diterbitkan

||

Proyek Miliaran 'Mangkrak' Ketua Komisi B DPRD Lumajang Angkat Bicara

Memontum Lumajang – Di akhir tahun 2018 ini sejumlah Proyek di Kabupaten Lumajang Jawa Timur mengalami keterlambatan pengerjaannya sehingga proyek belum selesai dan masa kontrak telah habis. Salah satunya Proyek pembangunan Jembatan Rowo Pandan Tempursari yang dikerjakan oleh PT Ken Diva Pratama dengan anggaran yang cukup fantastis, senilai Rp. 8.604.236.000 (Delapan milyar enam ratus juta empat juta dua ratus tigapuluh enam ribu rupiah) yang berasal dari APBD Kabupaten Lumajang tahun 2018 dengan waktu pelaksanaan 26 maret 2018 hingga 19 November 2018, saat ini kondisi proyek masih belum selesai dan nampaknya akan terbengkalai alias ‘mangkrak’ mengingat waktu kontrak sudah habis.

Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, Solikin SH, saat dikonfirmasi memontum.com, Jumat(14/12/2018) terkait hal itu mengatakan, Secara normatif sesuai atauran setelah masa kontrak sudah habis masih ada tenggang waktu paling lama 50 hari kerja, namun apabila 50 hari kerja itu tidak selesai tidak ada jalan lain harus dilakukan putus kontrak atau blacklist.

“Sebetulnya kalau teman – teman kontraktor punya niatan baik, dengan tambahan 50 hari kerja itu sudah sangat mencukupi, biasanya mereka berupaya menambah tenaga kerja, kemudian waktu kerjanya pun di tambah, kebutuhan – kebutuhan yang bersifat seperti itu saya kira tidak terlalu berat, kalau mereka bersungguh – sungguh ingin menyelesaikan proyek itu, tetapi kalau sudah diberikan kesempatan 50 hari tidak selesai ya sudah tidak ada jalan lain PPKnya harus tegas, di lakukan putus kontrak, supaya mereka mendapatkan sangsi yang membuat efek jera, sehingga tidak main – main, sebelumnya merekakan sudah ada kesepakatan ya, fakta integritas, bahwa proyek itu akan dilaksanakan sesuai kontrak yang telah disepakati bersama, dengan sangsi – sangsinya, saya kira seperti itu” kata Solikin.

Ketua komisi B, Politisi PDIP ini menegaskan, bahwa untuk mekanisme sudah di atur dalam peraturan presiden, PPKnya bisa melaksanakan sesuai aturan yang ada, pertama diberikan peringatan, kemudian peringatan kedua, yang terakhir kalau tidak diindahkan lagi tidak ada jalan lain, putus kontrak, itu merupakan jalan yang paling akhir.

“Sebetulnya dengan dilakukan blacklist, sama – sama rugi, pertama pihak pemerintah kalau proyek tidak selesai juga rugi, kedua rekanan juga rugi, karena namanya dia juga akan muncul di LKPP di pusat, nama dan benderanya yang otomatis tidak boleh mendapatkan pekerjaan, sebetulnya sama – sama rugi sebetulnya” ujarnya.

Solikin berharap para rekanan atau kontraktor untuk lebih mengedepankan kepentingan masyarakat, selain itu PPK juga harus jeli dalam mengantisipasi suatu persoalan hingga proyek tidak selesai.

“Harapan saya yang namanya kontraktor saya yakin mereka sebetulnya adalah orang – orang yang sudah profesional, yang sudah punya pengalaman, ayolah semua kita kerjakan demi kepentingan masyarakat secara umum ya, jangan karena hal – hal yang sebetulnya bisa kita atasi itu proyek akhirnya menjadi mangkrak, kecuali pada kasus – kasus tertentu, yang mungkin sangat berat, PPKnya ini harus lebih jeli, bagaimana mengantisipasi, terjadinya satu persoalan sehingga tidak selesainya suatu proyek, seperti kasus di jembatan rowo pandan ya, ini juga menjadi keprihatinan bagi saya, nilainya sangat besar kemudian jembatan itu juga sangat di butuhkan oleh masyarakat, justru yang paling dibutuhkan kok malah seperti itu, ini saya kan jadi prihatin, saya juga kecewa dengan rekanan yang seperti itu, ya saya mohon juga kepada dinas PU untuk tegas, kalau memang mereka sudah tidak mampu lagi setelah diberikan kesempatan 50 hari kerja yowes jangan segan segan melakukan sangsi putus kontrak” tegasnya.

“Untuk konsultan pengawas juga bisa memberikan rekomendasi kepada PPK, agar dilakujan teguran, ya peringatan dan lain sebagainya yang pada akhirnya, kalau kesempatan 50 hari kerja tidak selesai, dia harus memberikan rekomendasi putus kontrak” pungkasnya (adi/yan)

Hukum & Kriminal

Waspadalah..! Begal dan Maling Sapi Lumajang Kembali Beraksi

Diterbitkan

||

oleh

Waspadalah..! Begal dan Maling Sapi Lumajang Kembali Beraksi

Memontum Lumajang – Na’as di alami Rismiyanto (37) warga Dusun Apeldento Rt 002 Rw 004 Desa Bagorejo Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember. Pria paruh baya itu harus meninggal dunia setelah menjadi korban pembegalan di Wilayah Lumajang.

Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (21/9/2019 ) sekitar pukul 18.30 wib di jalan baru Desa Wonorejo Kecamatan Kedungjajang. Kronolagis kejadian saat itu korban bersama istrinya Liyatus Solikan (30) perjalanan pulang dari Surabaya menuju Jember dengan mengendarai sepeda motor Honda Vario Nopol P-6148-KE.

Ketika melintas di jalan Wonorejo Kec Kedungjajang Lumajang, korban disuruh berhenti oleh Dua orang pelaku dengan mengacungkan senjata tajam ( celurit ), setelah korban berhenti pelaku memaksa meminta sepeda motor korban kemudian membacok dan melarikan diri ke arah selatan.

“Setelah korban berhenti pelaku memaksa meminta sepeda motor korban kemudian membacok dan melarikan diri ke arah selatan,” Ujar Kapolsek Kedungjajang AKP Sugianto SH.

Selanjutnya korban dibawa ke Rumah Sakit Umum Dr. Hariyoto, Lumajang dengan mengalami luka bacok dibagian perut sebelah kanan.

“Setelah menjalani perawatan, korban meninggal dunia di Rumah Sakit”, jelasnya.

Pihaknya menghimbau masyarakat untuk tidak mekewati jalan baru wonorejo jika pada malam hari, karena kondisinya gelap dan sepi.

“Perlu saya informaiskan pada warga semuanya, jika perjalanan malam hari agar tidak lewat di jalan raya tersebut, karena kondisinya gelap. Penerangannya kurang, ambil saja arah ke terminal karena disitu ramai dan penerangannya bagus”, terang Kapolsek.

Dimalam yang sama, juga terjadi Penjambretan di Jalan Raya Banyuputih Lor Desa Banyuputih Lor Kec. Randuagung. Korban Titik (39) warga Dusun. Sumbertumpuk RT.024 RW.006 Desa Kalipenggung Randuagung. Beruntung korban yang saat itu bersama anaknya yang mengendarai sepeda motor berhasil selamat dari serangan brutal pelaku. Untuk barang (tas selempang warna peach) tidak berhasil diambil oleh pelaku, hanya tali tas milik korban putus.

Sebelumnya di Desa Maninjo Kec Ranuyoso Lumajang , Jumat (20/9/2019) 3 ekor sapi raib digondol maling, kejadian tersebut menimpa Bu Aryo (60). Maling sapi masuk dengan cara mencongkel pintu kandang yang sudah berdinding batu bata. Kejadian tersebut diketahui pemilik sekitar pukul 03:00 wib dini hari. Dari 4 sapi milik korban pada kandang tersebut hanya disisakan 1 ekor, sementara 3 yang lain dibawa kabur. (adi/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Qnet Money Game, Kapolres Lumajang: Bisnis Semacam ini Harus Segera Dibongkar dan Diruntuhkan

Diterbitkan

||

oleh

Qnet Money Game, Kapolres Lumajang Bisnis Semacam ini Harus Segera Dibongkar dan Diruntuhkan

Memontum Lumajang – Ramainya kasus Qnet menciptakan pro kontra di media sosial. Banyak pihak yang mendukung langkah Kapolres namun ada pula yang mencaci serta kontra terhadap tindakan pengungkapan Qnet yang di lakukan Tim Cobra Polres Lumajang.

Postingan akun ilham puji wahyuda di group facebook sahabat M.A.S yang mengatakan “Ada yg mw nglaporin bapak arsal guys ke kapolda jatim tentang pernyataan bapak tentang money game….kita harus dukung bpak arsal..biar beliau terus menyelidiki kasus money game ini”

akun Ilham menyertakan screenshoot dari akun agung Nuggroho. dimana akun agung menyertakan screenshoot juga yang berisi postingan dari akun Firman Akirya yang mengatakan “anda tau gk kenapa bapak arsal nanya betul tentang Qnet sampe ngepost pertanyaannya di Grub..???

sedangkan dalam video beliau sudah kayak orang tau betul tentang Qnet … malah mengatakan Qnet money game.. ternyata itu salah. Sedangkan video beliau yang mengatakan Qnet money game sudah tersebar di medsos sampe ke menejer perusahaan Qnet zona topas tower Jakarta (kantor pusat)..

maneger Qnet menuntut ke kapolda jatim tentang pernyataan kapolres tersebut… sehingga bapak tersebut terancam mutasi .. paham gak ? makanya beliau terpukul sehingga menanyakan betul apa Qnet sebenarnya…”

Postingan tersebut kemudan ditanggapi oleh ratusan warganet yang mendukung kinerja AKBP arsal untuk jangan gentar menangani kasus money games tersebut.
dari akun saifuddin “Polisi hebat polisi kuat bersama Rakyat”, kemudian akun arief andreas mengatakan “Semoga..komandan???di lindungi Ama Allah ..sukses terus komandan”

Menanggapi pernyataan tersebut, AKBP DR M Arsal Sahban,, Rabu (11/09/2019). Mengungkapkan pihaknya tidak akan mundur selama ia benar, banyak sekali korban yang merasa tertipu. Bisnis semacam ini harus segera dibongkar dan diruntuhkan karena kasihan korban yang termakan bujuk rayu bisnis money games sampai ada yang mau bunuh diri, sedangkan para pelakunya dapat tidur nyenyak bergelimang harta.

“Saya akan memaksimalkan penyelidikan ini agar dapat segera membongkar praktik penipuan bersekala nasional yang korbannya termonitor ada di semua provinsi di Indonesia” terang Kapolres.

Arsal sangat memahami tentang model bisnis money games karena mengambil S3 bidang hukum bisnis dan menulis makalah tentang money games saat pendaftaran masuk S3 di UNPAD. (adi/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Tim Cobra Diminta Selidiki Pelaksanaan Program Bedah Rumah Jatirejo Lumajang

Diterbitkan

||

oleh

Tim Cobra Diminta Selidiki Pelaksanaan Program Bedah Rumah Jatirejo Lumajang

Memontum Lumajang – Sempat senyap pasca viral, dugaan tipu – tipu dalam pelaksanaan program bedah rumah di Desa Jatirejo Kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang Jawa Timur, beberapa waktu lalu. Rupanya, ada cerita terpendam dibaliknya. Muncul kepermukaan saat ini, Rabu (11/9/2019).

Warga tak cukup puas, meski diwaktu sebelumnya, pada media ini Siti, Tim Pelaksana bedah rumah di Desa Jatirejo menegaskan jika dirinya sudah melaksanakan program tersebut sesuai prosedur yang ada.

Misnadi (51), warga Dusun Jatiwangi desa setempat, merupakan salah satu dari ke enam warga yang lain, di desa tersebut yang turut menerima manfaat bedah rumah.Ia mengaku bukannya merasa senang, akan tetapi merasa terintimidasi saat ini.

Hal itu diutarakan pada media ini oleh Iip Anita Candra Sari (29), keponakan Misnadi. Kata Iip, pasca ramai di media masa, akan dugaan ketidak wajaran proses bedah rumah di desanya itu.
Misnadi didatangi oleh staf desa sebanyak enam orang. Salah satunya kata Iip yaitu Siti (Timlak bedah rumah), ditemani yang lain diantaranya Kasun, Sekdes juga Mudin desa setempat.Ditanya Iip, keperluan dari ke enam orang tersebut yakni untuk mengembalikan uang sebesar 2,5 juta.

“Itu saya meneruskan cerita paman saya. Karena saat ke rumah, kalau tidak salah kemarin pas malam Selasa. Anak dan menantu paman saya, sedang tidak dirumah. Dan mereka datang malam sekira jam 20:30 an. Hemat saya, kenapa tidak menunggu ada pendamping dari anak atau yang lain, atau siang saja. Kenapa saat paman saya sendiri. Saat itu paman saya disuruh tanda tangan, sementara paman saya tidak bisa membaca,” kata Iip.

Menurut Iip, langkah dilakukan pihak pelaksana bedah rumah saat itu sepihak. Terkesan memaksakan kehendak untuk supaya pamannya tanda tangan.

“Kalau tidak tanda tangan, paman saya disuruh mengembalikan uang 7,5 juta. Yang didapat sebelumnya, dalam bentuk material. Atau pilihan lain, wajib menerima uang sisa 2,5 juta. Lalu menanda tangani lembaran yang sebenarnya tak diketahui apa isinya oleh paman saya Misnadi,” imbuh Iip.

Baca : Program Bedah Rumah di Desa Jatirejo Kunir Lumajang Disoal

Alhasil, merasa takut dan lain – lain. Terang Iip saat itu Misnadi menanda tangani lembaran yang disodorkan ke hadapannya.

Ditanya apakah Misnadi menerima uang 2,5 juta pasca tanda tangan ?, perempuan berhijab itu menjelaskan jika pamannya tidak meneima uang sepeserpun.

Iip meminta Tim Cobra Polres Lumajang menyelidiki dugaan ketidak wajaran didalam pelaksanaan program bedah rumah di desanya itu.

Baca Juga : Pasca Viral, Bedah Rumah di Desa Jatirejo Kunir Lumajang, Supadi Dapat Pengembalian Batako

“Supaya ada keadilan. Saya prihatin. Saya meminta Tim Cobra sedianya melakukan penyekidikan akan program bedah rumah di Desa Jatirejo. Karena menurut saya tidak transparan sama sekali. Kesannya menutup – nutupi,” tukas Iip.

“Biar ketemu, jalurnya seperti apa,” pungkas dia.

Sebelumnya, Siti, Timlak bedah rumah di Desa Jatirejo menjelaskan. Pelaksanaan bedah rumah tersebut bersumber tahun anggaran 2018 kemarin. Di Jatirejo ada enam pemerima.

Sementara Kades Jatirejo, Sukarmo, saat akan dimintai tanggapan sedianya meredam persoalan ini. Ia terkesan acuh, tak ingin ikut – ikutan dalan persoalan yang terjadi, kendati dirinya berkewajiban mengawasi hiruk pikuk desa yang ia pimpin.”Ke Timlak saja,” ucapnya lalu hengkang pergi. (adi/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler