Connect with us

Hukum & Kriminal

Curi Emas Senilai Rp 851 Juta, Janda 1 Anak Ajak Pacarnya Tidur di Villa Songgoriti

Diterbitkan

||

Wakapolres Malang Kota Kompol Arie saat menunjukan perhiasan emas yang berhasil diamankan. (gie)

Memontum Kota Malang – Seorang janda 1 anak, Dwisa Yuliati (42) warga Jl Banas, Desa Alak, Kota Kupang, Senin (15/7/2019) siang, dirilis di Polres Malang Kota. Dia adalah tersangka kasus pencurian 13 perhiasan Emas Eropa senilai Rp 851 juta dan sekoper baju.

Dia mencuri saat bekerja sebagai pembantu di rumah dr Lisa (46) warga Jl Borobudur Agung Barat, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada akhir Mei 2019. Dwisa akhirnya berhasil ditangkap petugas Polres Malang Kota pada 3 Juli 2019. Saat itu Dwisa sedang menginap di Villa Songgoriti Kota Batu, bersama pacarnya. Dwisa juga mengaku bahwa uang hasil penjualan emas tersebut telah habis digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan bersenang-senang.

Dwisa tampak menutup wajahnya. Tampak Pasutri Didik dan Sih. (gie)

Dwisa tampak menutup wajahnya. Tampak Pasutri Didik dan Sih. (gie)

Selain menangkap Dwisa, petugas Polres Malang Kota juga menangkap Pasutri Didik Setiawan (37) warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Sumbermanjing Wetan dan Sih Suwarni (36) warga Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Keduanya adalah tersangka 480 KUHP, karena telah membantu Dwisa menjual emas curian.

Informasi Memontum, bahwa sebelum kejadian, Dwisa bekerja sebagai PRT (Pembantu Rumah Tangga) di rumah dr Lisa. Dia bekerja selama 6 bulan hingga. Pada akhir Mei 2019, dr Lisa keluar Kota. Saat di rumah sendiri, Dwisa mencuri perhiasan emas di kotak yang disimpan di bawah tempat tidur. Dia juga mencuri 1 koper baju mahal milik dr Lisa.

Usai pencurian itu, Dwisa langsung kabur ke Malang Selatan. Sementara itu, saat pulang dari Jakarta, dr Lisa mengetahui kalau Dwisa sudah tidak ada di rumah. Namun saat itu dia tidak curiga kalau perhiasan emas dan baju-bajunya telah hilang.

Dia mengetahui kasus pencurian ini setelah 1 bulan kemudian, tepatnya awal Juli 2019. Dia baru sadar kalau baju-bajunya telah hilang. Saat dilakukan pengecekan, dr Lisa langsung kaget dikarenakan perhiasan emas beserta surat-surat mikiknya juga telah hilang. Karena mengalami kerugian sebesar Rp 851 juta, kejadian ini selanjutnya dilaporkan ke Polres Malang Kota.

Dari laporan ini, petugas melakukan pelacakan terhadap keberadaan Dwisa. Petugas berhasil melacaknya ternyata Dwisa sedang berada di Villa Songgoriti. Dia bersama kekasihnya menginap di Villa. Meskipun sempat tidak mengaku, namun Dwisa akhirnya hanya bisa pasrah saat menjalani pemeriksaan. Dwisa mengaku kalau 13 perhiasan emas hasil curiannya telah dijual.

Sebanyak 5 perhiasan senilai Rp 468 juta sudah ditemukan oleh pihak kepolisian. Emas itu awalnya dari Dwisa diserahkan kepada Didik dan Sih Suwarni untuk dijualkan. Oleh pasangan suami istri ini, 5 perhiasan emas itu dijual Rp 250 juta di toko emas Di wilayah Kabupaten Malang.

” Saya hanya dapat komisi Rp 500 ribu,” ujar Didik. Atas perbuatannya itu, Didik dan Sih Suwarni kini menemani Dwisa di balik jeruji besi.

Sedangkan pihak toko emas yang telah membeli perhiasan emas curian, sejauh ini masih menjadi saksi. Dikarenakan mereka berdalih tidak mengetahui kalau ke 5 perhiasan emas tersebut adalah barang curian karena dilengkapi denga surat-surat lengkap.

Sampai saat ini, sebanyak 8 perhiasan emas senilai Rp 383 juta masih belum ditemukan. Dikarenakan oleh Dwisa, perhiasan emas itu dijual secara terpisah di beberapa orang tak dikenal. Kini petugas Polres Malang Kota masih terus melakukan pengembangan untuk mencari 8 perhiasan emas tersebut yang belum diketahui keberadaanya.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri SIK MH melalui Wakapolres Malang Kota Kompol Arie Kristiawan SIK mengatakan bahwa tersangka DY dikenakan Pasal 363 KUHP sedangkan Pasutri DS dan SS dikenakan Pasal 480 KUHP.

” Tersangka DY kami tangkap saat berada di sebuah Villa dikawasan Batu beraama pacarnya. Sedangkan Pasutri DS dan SS kami tangkap karena telah menjualkan emas hasil curian. Saat ini sudah ada 5 perhiasan dan 1 koper baju kami amankan sebagai barang bukti. Kami masih terus melakukan pengembangan termasuk mencari 8 perhiasan lainnya yang belum berhasil.ditemukan,” ujar Kompol Arie. (gie/yan)

 

Advertisement
klik untuk berkomentar

Tuliskan Komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Motif Pembunuhan Dampit Terungkap! Tanah Diminta Dijual, Ibu Dihina, Cekik Istri

Diterbitkan

||

oleh

Motif Pembunuhan Dampit Terungkap! Tanah Diminta Dijual, Ibu Dihina, Cekik Istri

Memontum Malang – Jajaran Polres Malang akhirnya berhasil menangkap pelaku pembunuhan perempuan warga Desa Pamotan, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar dalam konferensi pers pada Sabtu (4/4/2020), pelaku yang diketahui berinisial AW (46) tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah suami korban.

Sementara itu, motif pembunuhan yang menewaskan korban bernama Suliani (44) ini disebabkan pelaku merasa sakit hati, karena korban sering mengeluarkan kata-kata dan kalimat yang kurang baik. Sehingga menyakiti hati pelaku.

Tersangka Agus di Polres Malang. (gim)

Tersangka Agus di Polres Malang. (gim)

“Setelah sekitar 4 jam penyelidikan dan melakukan observasi di wilayah, Polres dapat menemukan pelaku. Motifnya, ada unsur sakit hati. Selama ini berdasarkan pengakuan pelaku, korban banyak bwrkara kurang baik, sehingga menyakiti hati pelaku. Pelaku emosi dan akhirnya melakukan upaya penyiksaan, hingga akhirnya berujung pembunuhan,” ujar Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar.

Berdasarkan kronologi yang disampaikan oleh AKBP Hendri Umar, kejadian tersebut diawali pada Kamis (2/4/2020) sekitar puki 11.30 malam, pelaku dna korban berencana untuk pergi ke daerah Wajak, untuk menyelesaikan beberapa urusannya. Namun di tengah perjalanan, tepatnya di sekitar kebun sengon wilayah Desa Jambangan, Kecamatan Dampit pelaku memberhentikan motornya dan beralasan akan buang air kecil.

“Saat itulah korban dan pelaku turun dari kendaraannya. Pelaku memukul korban di bagian belakang kepalanya dengan potongan kayu yang ia temukan di sekitar lokasi. Korban sempat melakukan perlawanan kepada pelaku. Ada bukti bekas cakaran di dada pelaku,” imbuh AKBP Hendri Umar.

Berdasarkan hasil visum, korban meninggal karena kehabisan nafas lantaran dicekik pelaku.

“Setelah korban tersungkur, pelaku menyeret korban beberapa meter dari lokasi berhentinya tadi. Setelah itu korban dicekik dan disekap menggunakan jaket hingga korban meninggal, dan jaketnya digunakan untuk menutupi jasad si korban. Dari hasil visum, juga ditemukan beberao luka di bagian tubuh korban, dan juga ada pendarahan di rongga dada,” terangnya.

Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal 338 KUHP, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Sementara itu, Polres Malang juga akan menggelar rekonstruksi di lokasi tempat kejadian perkara (TKP).

BACA : 

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, pelaku mengaku sakit hati lantaran si korban menghina orang tua pelaku dengan sebutan pelacur. Selain itu, korban juga sering mengeluarkan kata-kata dan kalimat yang tidak pantas. Pelaku pun juga mengaku menyesal atas tindakannya yang menyebabkan istrinya meninggal.

“Saya sakit hati, karena orang tua saya dibilang lonte (pelacur). Selain itu masalah tanah, saya niatnya tanah ini untuk keperluan anak saya. Tapi dia malah minta untuk dijual buat keperluan dia sendiri,” jelas AW di hadapan AKBP Hendri Umar SIK MH, Sabtu (4/4/2020) siang. (gim/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Suliani Korban Pembunuhan Dampit Sempat Duel Lawan Pembunuh

Diterbitkan

||

oleh

Video Statement Kapolres Malang AKBP Hendri Umar SIK MH terkait pembunuhan. (Memontum.com)
Video Statement Kapolres Malang AKBP Hendri Umar SIK MH terkait pembunuhan. (Memontum.com)

Memontum Malang – Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar SIK MH pastikan korban di Dampit merupakan korban pembunuhan dilihat dari hasil identifikasi forensik di lokasi kejadian. Korban dimungkinkan sempat berduel dengan pelaku.

Ditemui Memontum.com, Hendri menyebut jika ada dua luka di tubuh korban. Yakni luka jeratan di leher korban dan luka benda tajam di kepala korban. “Panjangnya ada 5 cm. Ada luka bekas jeratan juga. Di lokasi ads tanda korban sempat berkelahi,” terang Hendri, Jumat (3/4/2020) sore.

Korban pembunuhan

Korban pembunuhan

Menurut Hendri, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengecek alibi terkait penemuan jenazah korban. “Benar dia pulang dari Malaysia, 2019 lalu. Kami masih selidiki lebih lanjut,” terang Hendri kepada Memontum.com.

Terpisah dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kasatreskrim Polres Malang, AKP Tiksnarto Handaru Rahutomo mengatakan, saat ini sudah ada beberapa orang dibawa ke Polsek Dampit untuk dimintai keterangan dan dilakukan pemeriksaan. Salah satu yang juga turut diperiksa yakni suamin korban.

“Suami korban sudah ada Polsek Dampit untuk dimintai keterangan,” ujarnya, Jumat (3/4/2020).

Dari pemeriksaan sementara, diketahui terdapat luka sayatan senjata tajam (sajam) di belakang telinga kepala bagian kanan korban.

“Kalau dari luka robekannya itu rapi, itu senjata tajam, dan kepalanya seperti ada luka memar,” imbuh dia.

BACA :

Lebih lanjut ia menjelaskan, berdasarkan laporan yang masuk sementara, korban diketahui keluar terakhir pada Kamis (2/4/2020) malam. Hingga saat ini pihak kepolisian masih terus melakukan penyelidikan, dimana ada empat tim yang telah dibentuk.

“Hingga saat ini masih dalam penyelidikan, dan kita masih belum dapat konfirmasi barang apa saja yang dibawa. Rumahnya diketahui cukup dari lokasi ditemukannya korban, jadi kayaknya gak mungkin kalau jalan kaki,” pungkasnya. (gim/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Pulang dari Luar Negeri, Wanita Dampit Terbunuh

Diterbitkan

||

oleh

Pulang dari Luar Negeri, Wanita Dampit Terbunuh

Memontum Malang – Warga Dampit digegerkan dengan penemuan mayat perempuan Jumat (3/4/2020) pagi. Mayat perempuan yang diketahui bernama Suliani tersebut ditemukan di kebun sengon dan tebu. Tepatnya di wilayah Sumbersari, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Menurut keterangan yang disampaikan saksi bernama Sumali warga RT 05 RW 01 Sumbersari Desa Jambangan, dirinya menemukan korban tergeletak di bawah pohon pisang di area sekitar kebun sengon pada pukul 06.00.

Evakuasi dan identifikasi jenazah korban. (ist)

Evakuasi dan identifikasi jenazah korban. (ist)

Setelah itu Sumali, memberitahukan kejadian tersebut kepada dua saksi lainnya, yakni Ngatini warga Desa Jambangan dan Sukirno selaku Perangkat Dusun (Kamituwo) setempat.

Setelah itu, ketiga saksi tersebut melaporkan hal itu kepada pihak kepolisian dalam hal ini Polsek Dampit dan kepada Kepala Desa. Dugaaan sementara, wanita yang diduga warga Desa Pamotan tersebut diduga menjadi korban pembunuhan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Pamotan, Gatot Sudarmanto membenarkan bahwa korban adalah warga Desa Pamotan. Tepatnya yakni warga RT 01/RW 05 Desa Pamotan, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang.

BACA :

“Iya mas betul, korban adalah warga Desa Pamotan, RT 01/RW 05. Dari informasi yang beredar, beberapa bulan yang lalu korban baru pulang dari luar negeri,” ujar Gatot saat dihubungi melalui pesan singkat.

Dari informasi yang dihimpun, korban yang diketahui berusia sekitar 40 tahun ini, jenazahnya ditemukan sekitar 4 km dari rumahnya. Korban yang sehari-hari diketahui berternak puyuh ini mempunyai dua orang anak. “Saat ini jenazahnya masih diotopsi,” pungkas Gatot. (gim/oso)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler