Connect with us

Bondowoso

Bosan jadi Buronan, Terpidana Nawari Serahkan Diri ke Kejari Bondowoso

Diterbitkan

||

SERAHKAN DIRI: Nawari terpidana kasus penganiayaan berstatus DPO sudah mendekam di Lapas Bondowoso

Memontum Bondowoso – Setelah lama menghilang dengan menyandang status Daftar Pencarian Orang (DPO), Nawari Hari Susanto, warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pujer yang mantan anggota DPRD Bondowoso periode 2014-2019, akhirnya menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso.

Terpidana kasus penganiayaan yang divonis hukuman lima bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Bondowoso pada 28 Desember 2015, ini memutuskan menyerahkan dirinya ke Kejari Bondowoso pada Sabtu malam (13/7/2019) sekitar pukul 21.15 WIB,

Kepala Kejari (Kajari) Bondowoso, Hj.Unaisi Hetty Nining Katili menjelaskan, penyerahan diri, itu merupakan hasil komunikasi kekeluargaan dirinya dengan terpidana Nawari dan keluarga terpidana.

”Kami mendatangi langsung rumah terpidana Nawari di Desa Sukokerto, Kecamatan Pujer. Dan, alhamdullilah, Nawari secara sadar dan tanpa paksaan mau menyerahkan diri ke Kejari Bondowoso untuk menjalani hukuman penjara yang tinggal beberapa bulan saja,” jelasnya.

Penyerahan diri Nawari tersebut, tambah Unaisi, itu disambut baik Kejari Bondowoso. Karena, sejak Mahkamah Agung (MA) RI menolak kasasi pada 2017 dan Nawari menyandang status DPO, bersedia menyerahkan diri secara sadar dan tanpa paksaan ke Kejari Bondowoso.

”Setelah dilakukan pemeriksaan, malam itu juga sekitar pukul 21.30 WIB, kami mengeksekusi terpindana Nawari ke Lapas Bondowoso,” ujar mantan Kajari Suwawa Bone Bolango (Bonbol) Provinsi Gorontalo.

Nawari Hari Susanto alias Pak Betti bin Sarwi berususan dengan hukum hingga menjadi terpidana dan menyandang status DPO, berawal dari kasus tindak pidana penganiayaan pada 2015 silam. Dia ditetapkan tersangka, setelah terbukti melakukan tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan tiga warga Desa Sukokerto Kecamatan Pujer, Bondowoso mengalami luka dan dirawat intensif di rumah sakit.

Dalam sidang di PN Bondowoso, mantan anggota DPRD Bondowoso periode 2014-2019 dari partai NasDem, ini divonis hukuman lima bulan penjara karena melanggar pasal 170 ayat 1 dan 2 (1) KUHP. Tak terima vonis hakim PN Bondowoso, Nawari banding dan hasilnya juga ditolak. Masih tidak terima, mantan Kades Sukokerto, Kecamatan Pujer, ini kasasi ke Mahkamah Agung (MA) RI pada 2017. Namun, MA juga menolak dan Nawari menghilang hingga Kejari Bondowoso menetapkan sebaai DPO. (ido/yan)

 

Bondowoso

Tujuh Bulan Buron, Pelaku Pemerkosaan Anak di Bondowoso Diciduk

Diterbitkan

||

DIPERIKSA: Penyidik Satreskrim Polres Bondowoso memeriksa pelaku pemerkosaan anak di bawah umur yang sempat buron tujuh buron

Memontum Bondowoso – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bondowoso, akhirnya menangkap pelaku pemerkosaan anak di bawah umur. Pelaku ditangkap polisi, setelah sempat menjadi buron selama tujuh bulan.

Pelaku yang kini ditahan di tahanan Mapolres Bondowoso adalah Supiadi, 49, warga Kecamatan Tapen, Bondowoso. Selama menjadi buronan polisi, dia sempat melarikan diri ke Pulau Bali.

”Begitu mendengar pelaku pulang ke Bondowoso, anggota Satreskrim Polres Bondowoso melakukan penangkapan. Kemudian, kami tahan untuk proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut,” kata Kasat Reskrim Polres Bondowoso AKP Jamal di kantornya, Senin (23/9/2019).

Polisi melakukan pencarian pelaku, itu menurut Jamal, setelah mendapat laporan dari keluarga korban beberapa bulan silam. Dari laporan dengan disertai bukti-bukti yang kuat, ini polisi langsung bergerak mencari keberadaan pelaku. Tapi sayangnya, pelaku menghilang, hingga sempat kabur ke Pulau Bali, begitu mendengar dirinya dilaporkan keluarga korban ke polisi.

”Mendengar kabar pelaku sempat kabur ke Pulau Bali, anggota Satreskrim Polres Bondowoso juga sudah mengejar ke sana (Pulau Bali, red). Tapi, kami tidak menemukan pelaku, Nah, begitu mendengar pelaku pulang ke Bondowoso, saya perintahkan anggota Satreskrim melakukan penangkapan,” jelas Jamal.

Dari informasi di lapangan, polisi menangkap pelaku, ini berawal dari laporan dugaan pemerkosaan dari orangtua anak di bawah umur yang menjadi korban pemerkosaan. Dalam laporan, ini orangtua korban melaporkan ke polisi, bahwa anak gadisnya yang duduk di kelas V SD telah diperkosa pelaku pada Maret 2019 lalu.

Modusnya, pelaku mengiming-imingi korban dengan uang Rp 100 ribu. Bahkan, untuk mewujudkan maksud bejatnya, pelaku berjanji akan terus memberi uang dengan jumlah lebih banyak kepada korban. Setelah korban berhasil dibujuk dengan iming-iming pemberian uang tersebut, pelaku melampiaskan maksud bejatnya. Anak gadis di bawah umur yang masih memiliki masa depan panjang, ini diperkosa di rumah pelaku saat kondisi sepi. (ido/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Bondowoso

Dua Rumah di Tapen Bondowoso Terbakar, Satu Orang Tewas

Diterbitkan

||

TERBAKAR: Dua rumah warga Desa Mrawan Kecamatan Tapen, Bondowoso ludes terbakar, Selasa (10/9/2019)

Memontum Bondowoso – Dua rumah warga di Desa Mrawan. Kecamatan Tapen, Bondowoso terbakar, Selasa (10/9/2019) sekitar pukul 08.45 WIB. Dua rumah terbakar, ini milik Adul Karim dan B.Tin, semuanya warga Dusun Taman RT 09/ RW 04 Desa Mrawan.

Akibat kebakaran, itu 1 orang meninggal dunia dan 2 orang mengalami luka bakar. Kondisi tubuh korban meninggal dunia hangus terbakar. Sedangkan, korban luka bakar terjadi pada kedua kaki. Namun, belum diketahui pasti penyebab terbakarnya dua rumah warga Desa Mrawan yang berdekatan ini.

Anggota Polsek Tapen yang mendapat laporan kebakaran, langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP). Dipimpin Kanit Reskrim Polsek Tapen Aiptu Sumo Redjo, anggora polsek bersama masyarakat setempat bergotong royonh memadamkan api dan mengevakuasi korban.

”Akibat kebakaran ada 1 orang korban jiwa meninggal dunia hangus terbakar dan 2 orang luka bakar pada kedua kaki,” kata Aiptu Sumo Redjo.

Korban meninggal dunia dan mengalami luka bakar, menurut dia, langsung dibawa ke Puskesmas Tapen. ”Dari hasil penyelidikan awal, dugaan sementara dari penyebab dua rumah warga terbakar berasal dari api akibat tabung gas melon 3 kg yang bocor,” ujarnya.

Sumo menambahkan, 1 orang korban meninggal dunia hangus terbakar adalah pemilik rumah Abdul Karim, (49). Sedangkan, dua orang korban luka bakar di kedua kaki adalah B.Yit (75) dan Suyama alias B.Sutris(60).

”Kedua korban yang mengalami luka bakar , saat ini di rawat intensif di Puskesmas Tapen,: tambahnya.

Selain mengevakuasi korban, polisi mengamankan sejumlah barang bukti (BB) dari TKP. Diantaranya, 2 buah timba seng kapasitas 15 liter, 1 buah tabung gas 3 kg kosong, 10 buah tabung gas isi 3 kg, 1 buah kompor gas hangus terbakar, 1 selang, dan 1 regulator.

“Semua BB kita amankan, guna penyelidikan lebih lanjut,” pungkas Aiptu Sumo. (ido/yan)

 

Lanjutkan Membaca

Bondowoso

Predator Anak di Bondowoso Dipenjara 13 Tahun

Diterbitkan

||

Sunardi, pelaku pencabulan anak dibawah umur saat sidang putusan di PN Bondowoso, Kamis (29/8/2019)

Memontum Bondowoso – Akibat kelakuan bejatnya mencabuli anak dibawah umur, Sunardi alias Muhfid, warga Dusun Sumberwalin, Desa Pakisan Kecamatan Tlogosari Bondowoso, Jawa Timur harus mendekam di penjara untuk waktu cukup lama. Ini setelah, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Bondowoso memvonis Sunardi hukuman 13 tahun penjara. Dia juga harus membayar denda uang Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Dalam sidang putusan di PN Bondowoso, Kamis (29/8/2019, dipimpin hakim ketua Subronto dan dua hakim anggota Daniel dan Ni Kadek menyatakan, Sunardi terbukti bersalah telah melakukan tindak pidana pencabulan anak di bawah umur.

Dia telah melanggar pasal 81 ayat 2 UU RI No.17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 01 tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang Undang.

Vonis majelis hakim, ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (PJU) Kejaksaan Negeri Bondowoso yang menuntut Sunardi hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan kurungan.

Atas vonis majelis hakim, Sunardi yang kini naik status dari terdakwa menjadi terpidana masih pikir-pikir untuk melakukan banding.

Namun, majelis hakim menjelaskan, kalau terpidana melakukan banding, biasanya vonis hukuman bisa bertambah dan bisa juga berkurang. Sedangkan, keluarga korban mengaku senang dengan vonis hukuman 13 tahun penjara yang dijatuhkan hakim kepada Sunardi. Karena, mereka menilai pelaku memang pantas menerima hukuman tersebut. (ido/yan)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler