Connect with us

Hukum & Kriminal

Oknum ASN Kecamatan Blimbing Nipu Warga Pakisaji, Dijanjikan Jadi ASN Asal Bayar Rp 75 Juta

Diterbitkan

||

Korban berinisial Ks saat datangi Kecamatan Blimbing. (gie)

Memontum Kota Malang – Seorang laki-laki berinisial Ks (25) warga Wonokerso, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang, telah menjadi korban penipuan yang dilakukan oleh oknum bernama Nanang Purwoaji (45).ASN staf Tantrib Kecamatan Blimbing warga Dusun Temu, Desa Sitirejo, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Modusnya Nanang menjanjikan Ks bisa menjadi ASN/ PNS Pemkot Malang asal membayar Rp 75 juta. Bahkan untuk memenuhi permintaan Nanang, Ks rela menjual 2 sapinya. Namun setelah dibayar Rp 75.juta, Nanang tidak pernah memenuhi janjinya.

Menurut keterangan Ks, saat bertemu dengan Memontum.com pada Selasa (13/8/2019) siang di Kantor Kecamatan Blimbing, mengatakan bahwa dirinya kenal dengan Nanang sekitaran Januari 2019.

“Saat itu saya dikenalkan oleh Pak Duriat, teman ayah saya. Pak Duriat mengenalkan saya kepada Pak Nanang yang katanya bisa memasukan kerja honorer di Satpol PP. Syaratnya saya harus bayar administrasi Rp 15 juta. Pada 21 Januari saya bayar Rp 10 juta dan pada 7 Februari Rp 5 juta,” ujar Ks.

Saat itu kuitansi yang diberikan oleh Nanang, cukup meyakinkan. Bagaimana tidak, pada kwitansi 7 Februari 2019 tersebut tertanda tanda tangan Wasto, Sekda Kota Malang. Namun stempelnya tertulis Badan Lengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Tentunya tanda tangan tersebut sengaja dipalsukan oleh Nanang untuk mempersaya Ks.

“Saya diminta melunasi uang administrasi satpol PP sebeaar Rp 15 juta. Nanang mengatakan kalau tanggal 30 April 2019, saya sudah bisa bekerja sebagai jonorer di Satpol PP dengan ganji Rp 1,9 juta,” ujar Ks.

Pengumuman kelulusan disebut pada 30 April 2019. “Saat sedang menunggu pengumuman kelulusan, Pak Nanang kembali bercerita kalau bulan Mei ada penerimaan CPNS. Katanya saya bisa masuk PNS jika membayar Rp 150 juta. Namun katanya dia bisa bantu setengahnya hingga saya hanya diminta Rp 75 juta. Pada 25 Maret 2019, saya bayar Rp 60 juta. Uang itu saya dapat setelah jual 2 sapi. Uang yang sudah saya bayar Rp 15 juta dan Rp 60 juta total Rp 75 juta,” ujar Ks.

Pada tanggal 30 Juli 2019, Ks datangi Satpol PP Kota Malang menanyakan kelulusan penerimaan tenaga honorer. ” Walau saya dijanjikan jadi PNS, saya tetap datang ke Satpol PP.karena saya sudah memiliki kertas pelatihan dan pembekalan tenaga honorer. Saat itu saya diberi penjelasan kalau tidak ada lowongan dan tenaga baru di Satpol PP. Saya juga diberitahu kalau telah kena tipu,” ujar Ks.

Dengan perasaan kecewa, Ks akhirnya pulang dengan tangan hampa. ” Saya kecewa berat dan merasa ditipu. Saya telp-telp gak pernah diangkat. Saya sanggong di rumahnya diberi janji-janji saja. Akhirnya uangbsaya dikembalikan Rp 20 juta. Saya tagih terus hanya diberi janji. Sekitar Kamis.kemarin saya.bertemu Pak Nanang katanya uang saya akan dikembalikan setelah tanahnya terjual. Namun sampai sekarang uang Rp.55 juta saya tidak juga dikembalikan,” ujar Ks saat datangi Kecamatan Blimbing untuk mencari Nanang.

Sementara itu, Camat Blimning Drs Muarib MSI, mengatakan bahwa pihaknya mengetahui kejadian ini sejak Juli 2019. ” Awalnya saya mengira hanya utang piutang. Namun saat korbannya menjelaskan juga membawa foto kopi kuitansi. Nama Pak Sekda juga dicatut. Tanda tangan Pak Sekda dipalsukan, namun stempelnya menggunakan BPKAD yang juga diduga palsu. Korban dijanjikan menjadi ASN. Informasinya Pak Nanang sudah kembalikan Rp 20 juta,” ujar Muarib.

Pasca diketahui aksi ini, Nanang jarang kerja. ” Juli dan Agustus dia jarang kerja. Katanya sakit namun hanya bawa keterangan surat sakit dari bidan. Karena jarang masuk, dia juga sudah kami kenakan sanksi. Saat ini sudah kami laporkan ke BKD dan kami diminta untuk ke Kabid Disiplin,” ujar Muarib. Nanang belum bisa dikonfirmasi karena.pada Selasa pagi, dia juga tidak masuk kerja. (gie/yan)

 

Hukum & Kriminal

Penganiayaan Siswa SMKM 2 Kota Malang, Sang Motivator Ditangkap di Surabaya

Diterbitkan

||

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH bersama Walikota Malang Drs Sutiaji dan Dandim 0833 Letkol Inf Tomny Anderson saat di SMKM 2 Kota Malang. (gie)
Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH bersama Walikota Malang Drs Sutiaji dan Dandim 0833 Letkol Inf Tomny Anderson saat di SMKM 2 Kota Malang. (gie)

Memontum, Kota Malang – Sang motivator Agus Setyawan alias Agus Piranhamas, warga Jl Piranha Atas Gang V, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, akhirnya berhasil dibekuk petugas Reskrim Polres Malang Kota, saat berada di Surabaya, pada Jumat (18/10/2019) pukul 14.00.

Belum diketahui keberadaan Agus di Surabaya, apakah hendak kabur atau ada keperluan lain, pastinya petugas sudah melakukan pengamanan dan membawanya ke Mapolres Malang Kota.

Atas perbuatannya itu, Agus sudah ditetapkan sebagai tersangka kekerasan terhadap anak UU No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman 5 tahun penjara. Saat ini Agus masih terua menjalani pemeriksaan di Polres Malang Kota.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH mengatakan bahwa tersangka AP ditangkap saat berada di Surabaya. “Dia sudah kami amankan di kawasan Surabaya. Dia kami kenakan UU No 35 Tahun 2014 dengan ancaman 5 tahun penjara,” ujar AKBP Dony.

Pihaknya sangat menyayangkan adanya kejadian ini dan akan menindak pelaku sesuai hukum yang ada.

“Walikota Malang, Bapak Dandim dan semua elemen masyarakat merasa sangat prihatin. Kami akan melakukan tindakan tegas dalam proses ini, prosedural, profesional dan tasparan,” ujar AKBP Dony.

Jumat hingga pukul 15.00, dari 10 korban sebanyak 9 orang sudah melapor. “Sebanyak 9 pelajar sudah melapor. Ada 1 yang belum melapor karena hidungnya masih mimisan. Dari hasil visum ada 1 yang mengalami luka robek di bibir dan lainnya luka-luka lebam,” ujar AKBP Dony.

BACA : Viral, Motivator Ngamuk, Tampar Beberapa Siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah rekaman kekerasan yang dilakukan oleh motivator terhadap sejumlah siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang, viral di media sosial. Kekerasan tersebut terjadi saat ada kegiatan seminar dan motivasi sekolah dengan mendatangkan motivator dari pihak luar.

Jika dilihat di Banner yang bertuliskan Seminar Motivasi Berwirausaha, yang terpasang di aula SMK Muhammadiyah 2, terdapat tulisan PT Piranhamas Group.

Motivator tersebut terlihat mengamuk dan menampar beberapa siswa sambil berteriak Gobl**. Rekaman kekerasan tersebut langsung viral di Facebook. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Garong Spesialis Jebol Dinding Rumah Kosong Pakis Ngaku 19 X Aksi

Diterbitkan

||

DUA : Anggota Polsek Pakis bersama Buser Polres Malang usai meringkus 2 tersangka. (ist)
DUA : Anggota Polsek Pakis bersama Buser Polres Malang usai meringkus 2 tersangka. (ist)

Memontum Malang – Garong spesialis rumah kosong yang beraksi 19 X, berhasil diringkus anggota Reskrim Polsek Pakis dan Buru Sergap Polres Malang. Garong ini beranggotakan 2 pemuda asli kelahiran Pakis.

Dua tersangka yakni Eka Budianto (27) mengaku warga Dusun Ngrangin RT19/RW03, Desa Sumberpasir dan Dwiky Septian (20) pemuda Dusun Krajan Barat RT05/RW04, Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

“Benar, kami tangkap 2 tersangka dini hari tadi. Barang bukti sejumlah alat elektronik masih kami data dan dalami penyidikan,” ungkap Iptu Sutiyo SH Mhum, Kapolsek Pakis kepada Memontum.com.

Kedua tersangka, tepatnya diringkus petugas Jumat (18/10/2019) pukul 01.30. Tersangka tidak berkutik lantaran saat digeledah kedapatan membawa ponsel hasil curian. Ada pula sebanyak 27 lembar tanda terima gadai barang hasil curian.

Tiga aksi tersangka diakui pernah dilakoni di rumah Surgiyanto (60) warga Perum Asrikaton Indah G10, RT05/ RW09 Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Aksi pelaku berlangsung saat Salat Idul Adha, Minggu 11 Agustus 2019 silam dan kisaran 2019.

Kedua tersangka melubangi tembok rumah korban dengan obeng. Di dalamnya, tersangka menjarah 4 buah ponsel dan uang tunai jutaan rupiah.

Dalam pemeriksaan petugas, tersangka mengaku menjual gadai barang-barang hasil curiannya. Barang-barang curian itu diterima, sejumlah pegadaian dan warga.

Jadi barang bukti, Dos Book HP Samsung Galaxy A6+, Dos Book HP Oppo A83, Dos Book HP Samsung Galaxy J2 Pro, Dos Book Xiaomi 4X, HP Merk Oppo A83, HP Merk Samsung Galaxy J2 Pro, HP Merk Xiaomi 4X dan sebuah obeng warna merah.

Akibatnya perbuatannya, kata Sutiyo, tersangka diduga melanggar pasal 363 KUHP Tentang Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya lebih dari 5 tahun kurungan penjara.

Hingga kini, penyidik Polsek Pakis masih mendalami kasus ini dan mendata sejumlah barang bukti. Sementara, hasil pemeriksaan terungkap, tersangka hanya beraksi di wilayah Pakis. (sos)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Korban Bangkit Didorong Hidup-Hidup di Sungai Watu Ondo Cangar

Diterbitkan

||

Korban Bangkit Didorong Hidup-Hidup di Sungai Watu Ondo Cangar

Memontum Malang – Dari 6 pelaku, tiap orang memiliki peran masing-masing. Tersangka Bambang, diduga sebagai perencana penculikan, penyedia sarana mobil, memukul korban, mendorong korban hingga jatuh ke sungai. Bambang juga menyuruh tersangka lain memukuli korban Bangkit.

Pelaku ARP sebagai pengikat korban dan turut memukuli korban. Begitu juga tersangka Krisna. Ia ikut memukul korban sebanyak 3X. Ia kebagian mendapat uang rampasan Rp 200 ribu. Uang itu didapat dari pelaku lain berinisial ARP.

OTAK : Bambang Irawan, tersangka otak pelaku pembunuhan dan penculikan. (ist)

OTAK : Bambang Irawan, tersangka otak pelaku pembunuhan dan penculikan. (ist)

Pelaku ARP sendiri merampas harta korban dan membagi hasil rampasan. Pelaku MIR turut menentukan lokasi eksekusi, memukuli korban dan bersama ARP merampas harta korban. Rizaldy sebagai pemukul korban dan menerima uang Rp 200 ribu.

Khusus tersangka RRN, ia sebagai pemberi kabar keberadaan Bangkit pada tersangka Bambang. Ia turut pula mendorong korban masuk ke dalam mobil serta menghalangi korban saat berniat pulang.

BACA : Bermotif Dendam, Pernah Diusir, Ditipu Korban Hingga Dikejar Debt Collector

Menurut Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Leonardus Harapantua Simarmata Permata, SSos, SIK, MH, terhadap para pelaku, jeratan pasal yang disangkakan yakni Pasal 340 KUHP Sub Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 170 ayat (2) butir 3 KUHP. Pasal 340 Tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 170 Tentang pengeroyokan dan Pasal 338 Tentang pembunuhan. (sos)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler