Connect with us

Hukum & Kriminal

Pasca Viral, Bedah Rumah di Desa Jatirejo Kunir Lumajang, Supadi Dapat Pengembalian Batako

Diterbitkan

||

Pasca Viral, Bedah Rumah di Desa Jatirejo Kunir Lumajang, Supadi Dapat Pengembalian Batako

Memontum Lumajang – Pasca viral pemberitaan adanya dugaan tipu – tipu, dalam pelaksanaan program bedah rumah di Desa Jatirejo Kecamatan Kunir Kabupaten Lumajang, saat ini nampak sejumlah batako, ditumpuk didepan rumah Supadi (68), Dusun Jatisari, Desa – Kecamatan setempat, Kamis (29/8/2019).

Supadi merupakan salah satu penerima bedah rumah. Dan pada waktu beberapa hari sebelumnya, rumah yang dibedah tersebut, telah dinyatakan selesai penggarapannya, meski dirasa hasilnya menuai tanda tanya.

Kata Nur Hayati (52), anak dari Supadi, batako itu, tiba – tiba saja tukang yang sebelumnya bekerja menggarap rumah bapaknya itu, menaruh tanpa sendiko dawuh (tanpa permisi) alias datang tanpa permisi pergi tanpa pamit.

“Itu kemarin dikembalikan sama tukang. Tapi tidak bilang – bilang ngembalikan, tidak bilang sama saya ya tidak bilang sama bapak saya. Langsung ditaruh, datangnya tidak permisi, pulangnya tidak permisi,” ucap Nur Hayati.

Labih lanjut, kata Nur Hayati, ada empat tukang yang sebelumnya menggarap rumah Supadi (bapaknya). Bekerja sekira delapan hari.

Ia juga menceritakan, jika kemarin dirinya turut mendampingi Supadi dirumahnya, menemui petugas dari kecamatan dan Kabupaten, berikut tim pelaksana dari desa, Siti (staf desa Jatirejo), yang diwaktu sebelumnya sempat disebut – sebut pada pemberitaan.

“Ya saya liat Bu Siti ditanya sama orang Kecamatan, Batako dapat berapa?, Bu Siti jawab 500 biji. Ditanya lagi apa ada sisa?, lalu Bu Siti jawab ada dibawa tukang, gitu,” imbuhnya, sambil melirik ke arah tumpukan batako, yang diantar tukang ditaruh didepan rumah bapaknya itu.

“Yang dari Lumajang kemarin bilang ke Bu Siti, agar dijumlah. Tapi tidak dijumlah ini sama Bu Siti. Saya tidak dengar jumlahnya berapa (belanja keseluruhan). Saya hanya dengar depan ini (teras), habis 2 juta lebih lah, lain – lainnya cuma di cek beli ini, beli ini, tapi jumlahnya berapa tidak tau,” tukas Nur.

Sempat juga kata Nur Hayati, Siti mengaku jika pihaknya membeli bambu dalam perbaikan rumah Supadi. Namun saat itu juga, dibantah oleh Nur Hayati. Kata dia, Siti selaku pelaksana tidak beli bambu melainkan bambu itu, menebang milik Supadi.

“Saya jawab langsung. Itu bambu tidak beli. Itu punya saya sendiri, yang depan itu punya saya sendiri. Cagak satu dibawa, ini kan cagaknya tiga, cuma dua kan, ya dibawa itu satu (tiang penyangga teras),” tukasnya.

Jika di kalkukasi, Nur Hayati menaksir, dari anggaran 10 juta, itu tidak terealisasi sepenuhnya.

Terpisah, sehari sebelumnya Siti Rokayah, tim pelaksana bedah rumah di Desa Jatirejo meyakini, jika pihaknya sudah bekerja sesuai dengan prosedur yang ada.

“Kalau anggaran yang sesuai dengan RAP, itu tidak ada pemotongan sama sekali. Sesuai dengan RAP yang ada. Soalnya kita kerja bukan main – main, kita sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Siti.

Terang Siti, tim perumahan sendiri sudah mensurve ke penerima langsung (rumah yang bersangkutan. Ternyata kata dia, disitu sudah menjelaskan kalau perolehan dana bedah rumah itu, mulanya tahap 1 dapat 7,5 juta, bukan 5 juta.

“Katanya pihak Kabupaten sendiri bukan berupa uang, dijelaskan dari awal, penerima itu menerimakan setelah itu diterimakan kembali sama tim pelaksana. Sedangkan tahapan yang ke-2, itu dapat lagi 2,5 juta,” imbuh Siti.

Siti mengaku, rincian harga tertera semua. Berbeda dengan apa yang di utarakan Nur Hayati, saat pihak kebupaten meminta menotal keseluruhan, katanya, Siti terkesan diam.

Ditanya soal asbes yang dipindah, Siti mengakui jika saat itu pihaknya mendroping per unit (rumah) itu sebanyak 15 lembar, akan tetapi menurutnya, yang dipasang mengacu pada tingkat kebutuhan yang ada.

“Kalau disitu cuma 7 lembar, otomatis kita kan sesuaikan dengan yang dipasang, ya 7 lembar itu. Sama dengan yang di RAP itu kan 7 lembar. Berhubung saya kasi 15 lembar saya kasi disitu, ketimbang bolak – balik, mending kita drop 15 disana, ada kekurangan nanti diambil,” ucap Siti.

Ditanya jika tidak ada kekurangan, sisanya ditaruh dimana, Siti mulai melenceng, jawabannya malah menjelaskan kalsiboard.

“Tidak mungkin terlalu banyak, karena perumah itu tidak sama. Ada yang dapat 22 kalsiboard, ada yang 25 kalsiboard, dan ada juga seperti Supadi itu, 7 kalsiboard, kan tidak sama,” jelas Siti.

Hal itu kata Siti, tidak mempengaruhi nilai anggaran, karena memang disesuaikan dengan kebutuhan.

Menurutnya, apa yang disampaikan nara sumber dipemberitaan sebelumnya itu salah. (adi/yan)

 

Hukum & Kriminal

Penganiayaan Siswa SMKM 2 Kota Malang, Sang Motivator Ditangkap di Surabaya

Diterbitkan

||

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH bersama Walikota Malang Drs Sutiaji dan Dandim 0833 Letkol Inf Tomny Anderson saat di SMKM 2 Kota Malang. (gie)
Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH bersama Walikota Malang Drs Sutiaji dan Dandim 0833 Letkol Inf Tomny Anderson saat di SMKM 2 Kota Malang. (gie)

Memontum, Kota Malang – Sang motivator Agus Setyawan alias Agus Piranhamas, warga Jl Piranha Atas Gang V, Kelurahan Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, akhirnya berhasil dibekuk petugas Reskrim Polres Malang Kota, saat berada di Surabaya, pada Jumat (18/10/2019) pukul 14.00.

Belum diketahui keberadaan Agus di Surabaya, apakah hendak kabur atau ada keperluan lain, pastinya petugas sudah melakukan pengamanan dan membawanya ke Mapolres Malang Kota.

Atas perbuatannya itu, Agus sudah ditetapkan sebagai tersangka kekerasan terhadap anak UU No 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman 5 tahun penjara. Saat ini Agus masih terua menjalani pemeriksaan di Polres Malang Kota.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH mengatakan bahwa tersangka AP ditangkap saat berada di Surabaya. “Dia sudah kami amankan di kawasan Surabaya. Dia kami kenakan UU No 35 Tahun 2014 dengan ancaman 5 tahun penjara,” ujar AKBP Dony.

Pihaknya sangat menyayangkan adanya kejadian ini dan akan menindak pelaku sesuai hukum yang ada.

“Walikota Malang, Bapak Dandim dan semua elemen masyarakat merasa sangat prihatin. Kami akan melakukan tindakan tegas dalam proses ini, prosedural, profesional dan tasparan,” ujar AKBP Dony.

Jumat hingga pukul 15.00, dari 10 korban sebanyak 9 orang sudah melapor. “Sebanyak 9 pelajar sudah melapor. Ada 1 yang belum melapor karena hidungnya masih mimisan. Dari hasil visum ada 1 yang mengalami luka robek di bibir dan lainnya luka-luka lebam,” ujar AKBP Dony.

BACA : Viral, Motivator Ngamuk, Tampar Beberapa Siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang

Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah rekaman kekerasan yang dilakukan oleh motivator terhadap sejumlah siswa SMK Muhammadiyah 2 Kota Malang, viral di media sosial. Kekerasan tersebut terjadi saat ada kegiatan seminar dan motivasi sekolah dengan mendatangkan motivator dari pihak luar.

Jika dilihat di Banner yang bertuliskan Seminar Motivasi Berwirausaha, yang terpasang di aula SMK Muhammadiyah 2, terdapat tulisan PT Piranhamas Group.

Motivator tersebut terlihat mengamuk dan menampar beberapa siswa sambil berteriak Gobl**. Rekaman kekerasan tersebut langsung viral di Facebook. (gie/oso)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Garong Spesialis Jebol Dinding Rumah Kosong Pakis Ngaku 19 X Aksi

Diterbitkan

||

DUA : Anggota Polsek Pakis bersama Buser Polres Malang usai meringkus 2 tersangka. (ist)
DUA : Anggota Polsek Pakis bersama Buser Polres Malang usai meringkus 2 tersangka. (ist)

Memontum Malang – Garong spesialis rumah kosong yang beraksi 19 X, berhasil diringkus anggota Reskrim Polsek Pakis dan Buru Sergap Polres Malang. Garong ini beranggotakan 2 pemuda asli kelahiran Pakis.

Dua tersangka yakni Eka Budianto (27) mengaku warga Dusun Ngrangin RT19/RW03, Desa Sumberpasir dan Dwiky Septian (20) pemuda Dusun Krajan Barat RT05/RW04, Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

“Benar, kami tangkap 2 tersangka dini hari tadi. Barang bukti sejumlah alat elektronik masih kami data dan dalami penyidikan,” ungkap Iptu Sutiyo SH Mhum, Kapolsek Pakis kepada Memontum.com.

Kedua tersangka, tepatnya diringkus petugas Jumat (18/10/2019) pukul 01.30. Tersangka tidak berkutik lantaran saat digeledah kedapatan membawa ponsel hasil curian. Ada pula sebanyak 27 lembar tanda terima gadai barang hasil curian.

Tiga aksi tersangka diakui pernah dilakoni di rumah Surgiyanto (60) warga Perum Asrikaton Indah G10, RT05/ RW09 Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. Aksi pelaku berlangsung saat Salat Idul Adha, Minggu 11 Agustus 2019 silam dan kisaran 2019.

Kedua tersangka melubangi tembok rumah korban dengan obeng. Di dalamnya, tersangka menjarah 4 buah ponsel dan uang tunai jutaan rupiah.

Dalam pemeriksaan petugas, tersangka mengaku menjual gadai barang-barang hasil curiannya. Barang-barang curian itu diterima, sejumlah pegadaian dan warga.

Jadi barang bukti, Dos Book HP Samsung Galaxy A6+, Dos Book HP Oppo A83, Dos Book HP Samsung Galaxy J2 Pro, Dos Book Xiaomi 4X, HP Merk Oppo A83, HP Merk Samsung Galaxy J2 Pro, HP Merk Xiaomi 4X dan sebuah obeng warna merah.

Akibatnya perbuatannya, kata Sutiyo, tersangka diduga melanggar pasal 363 KUHP Tentang Tindak Pidana Pencurian dengan Pemberatan. Ancaman hukumannya lebih dari 5 tahun kurungan penjara.

Hingga kini, penyidik Polsek Pakis masih mendalami kasus ini dan mendata sejumlah barang bukti. Sementara, hasil pemeriksaan terungkap, tersangka hanya beraksi di wilayah Pakis. (sos)

 

Lanjutkan Membaca

Hukum & Kriminal

Korban Bangkit Didorong Hidup-Hidup di Sungai Watu Ondo Cangar

Diterbitkan

||

Korban Bangkit Didorong Hidup-Hidup di Sungai Watu Ondo Cangar

Memontum Malang – Dari 6 pelaku, tiap orang memiliki peran masing-masing. Tersangka Bambang, diduga sebagai perencana penculikan, penyedia sarana mobil, memukul korban, mendorong korban hingga jatuh ke sungai. Bambang juga menyuruh tersangka lain memukuli korban Bangkit.

Pelaku ARP sebagai pengikat korban dan turut memukuli korban. Begitu juga tersangka Krisna. Ia ikut memukul korban sebanyak 3X. Ia kebagian mendapat uang rampasan Rp 200 ribu. Uang itu didapat dari pelaku lain berinisial ARP.

OTAK : Bambang Irawan, tersangka otak pelaku pembunuhan dan penculikan. (ist)

OTAK : Bambang Irawan, tersangka otak pelaku pembunuhan dan penculikan. (ist)

Pelaku ARP sendiri merampas harta korban dan membagi hasil rampasan. Pelaku MIR turut menentukan lokasi eksekusi, memukuli korban dan bersama ARP merampas harta korban. Rizaldy sebagai pemukul korban dan menerima uang Rp 200 ribu.

Khusus tersangka RRN, ia sebagai pemberi kabar keberadaan Bangkit pada tersangka Bambang. Ia turut pula mendorong korban masuk ke dalam mobil serta menghalangi korban saat berniat pulang.

BACA : Bermotif Dendam, Pernah Diusir, Ditipu Korban Hingga Dikejar Debt Collector

Menurut Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Leonardus Harapantua Simarmata Permata, SSos, SIK, MH, terhadap para pelaku, jeratan pasal yang disangkakan yakni Pasal 340 KUHP Sub Pasal 338 KUHP dan atau Pasal 170 ayat (2) butir 3 KUHP. Pasal 340 Tentang Pembunuhan Berencana, Pasal 170 Tentang pengeroyokan dan Pasal 338 Tentang pembunuhan. (sos)

 

Lanjutkan Membaca
Advertisement

Terpopuler