Kota Malang

Belasan Korban Tanah Kavling Bodong, Laporkan CV Fajar Jaya Abadi ke Polres Malang Kota

Diterbitkan

-

Para korban tanah kavling bodong, saat mendatangi Polres Malang Kota. (gie)

Memontum Kota Malang– Sebanyak 13 korban CV Fajar Jaya Abadi, Kamis (21/12/2017) siang, mendatangi Polres Malang Kota. Beberapa diantaranya yang sudah melapor mempertanyakan kelanjutan laporannya sedangkan beberapa yang belum melapor membuat laporan terkait penipuan ini Yakni Kurnia Widyastuti  (46) selaku direktur CV Fajar Jaya Abadi.

 

Para korban ini sudah membeli tanah kavling di kawasan Madyopuro, yang dijual CV Fajar Jaya Abadi sejak 2015. Yakni kisaran harga berbeda-beda mulai dari Rp 45 juta hingga Rp 65 juta. Bahkan perorang ada yang sampai membeli 2 kavling sekaligus. Namun kenyataanya tanah kavling yang dijual tersebut bukanlah milik CV Fajar Jaya Abadi. Pembeli tanah kavling jumlahnya lebih dari 100 orang dengan kerugian milyaran rupiah.

 

Menurut keterangan  salah satu korban yakni Andreas Amrullah (35),  warga Jl Sawojajar Raya, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, bahwa jumlah korban mencapai lebih dari 100 orang. “Kalau pembeli tanah kavling lebih dari 100 orang. Namun yang sudah kita data sebanyak 43 orang. Untuk 43 orang yang ada di grup kami total kerugian sebesar Rp 1.317.150.000.

 

 

Diceritakan oleh Andreas, awal dia melihat penawaran tanah kavling tersebut sekitar tahun 2015. Saat itu ada penyebaran brosur dari CV Fajar Jaya Abadi. “Brosur itu disebar di depan rumah saya. Saya tertarik hingga DP Rp 5 Juta perkavling. Pembayaran selanjutnya 70 persen sebelum penandatanganan AJB (Akte jual Beli). Saat itu saya ambil 2 kavling. Tanah kavling itu harganya bermacam-macam tergantung letaknya,” ujar Andreas.

 

 

Saat itu pihak CV Fajar Jaya Abadi dalam menawarkan tanah kavling tersebut cukup meyakinkan hingga tanahnya laris manis. “Namun setelah pembayaran 70 persen itu, kita tunggu-tunggu namun tidak ada tanda tangan ke notaris. Kita menunggu hingga 6 bulan lamanya,” ujar Andreas.

 

 

Karena merasa curiga, para korban kemudian melakukan pengecekan di tanah kavling yang dijual. Saat itulah diketahui bahwa tanah tersebut milik Raimin yang tidak jadi dibeli oleh CV Fajar Jaya Abadi. “Informasinya tanah itu dulunya mau dibeli oleh CV Fajar Jaya Abadi. Namun karena CV Fajar Jaya Abadi melakukan wanprestasi hingga pihak pemilik tanah membatalkan jual beli,” ujar Andreas.

 

 

Karuan saja hal itu membuat para korban kaget hingga meminta Kurnia Widyastuti, selaku Direktur CV Fajar Jaya Abadi untuk mengembalikan uang yang sudah dibayarkan. “Berbagai macam sudah kami lakukan untuk menagih uang kami kembali. Termasuk memberi somasi dan melaporkan ke Polres Malang Kota. Ada sebagain uang yang sudah dikembalikan, namun banyak juga yang belum dikembalikan. Sepertihalnya 43 orang yang tergabung dalam grup WhatsApp kami total yang belum dikembalikan masih Rp 1.317.150.000,” ujar Andreas.

 

Saat ini kedatangannya ke Polres Malang Kota untuk melaporkan Kurnia Widyastuti ke polisi. “ Untuk yang sudah melapor datang untuk mempertanyakan perkembangan laporannya. Sedangkan saya dan beberapa teman lainnya datang untuk melapor. Kami berharap pihak CV Fajar Jaya Abadi bertanggung jawab dan mengembalikan uang kami. Kami melapor kerena Kurnia seperti menghindar tak bertanggung jawab dan sulit dihubungi. Informasinya kini  Kurnia tinggal di kawasan Emerald Garden Pakis, Kabupaten Malang ,” ujar Andreas.

 

 

Masruroh (42) salah satu korban bahwa dia sendiri sudah melapor ke Polres Malang Kota sejak Februari 2017 lalu. Kedatangannya kali ini untuk mempertanyakan perkembangan laporannya sejakah mana petugas Polres Malang Kota menangani kasus ini. “Kalau saya sudah melapor. Kedatangan saya untuk mempertanyakan perkembangan laporan saya. Ini teman-teman juga sudah membuat laporan.

 

Adapun 13 korban yang datang siang kemarin diantaranya Rauf Mega, Yoga Mahatma, Lilik Handayani, Andreas, , Rizky Patria, Joko Solim, Endah retno, Dinni Ikhtiyari, Masruroh, Muafiah, Derry, Fonda dan Eden Hardy. Kini mereka hanya bisa berharap petugas Polres Malang Kota segera menangani kasus ini.

 

 

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri SIK MM, saat dikonfirmasi Memo X, mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan. “Segera kami lakukan penyelidikan. Kami akan telusuri,” ujar AKBP Asfuri.  Sementara itu, Kurnia Widyastuti, saat dikonfirmasi Memo X melalui pesan WhatsApp nya tidak membalas. Pesan sendiri terlihat tanda sudah terkirim. Namun dia hingga malam belum membalas pesan konfirmasi tersebut.(gie/yan)        

Advertisement
Click to comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hukum & Kriminal

Miris, Oknum Pelajar Malang Bawa Pisau, Roti Kalung, Gir

Diterbitkan

-

Oleh

KARTU : Beberapa pelajar saat dirazia. (gie)

Memontum, Kota Malang – Ternyata yang membuat para pelajar yang berkumpul di sekitaran Jl Trunojoyo dan Jl Kertanegara, Kecamatan Klojen, Kota Malang pada Kamis (26/9/2019) pukul 16.00, setelah mereka membaca pesan berantai “broadcast” tentang ajakan untuk berdemo.

Oleh karena itu para pelajar yang mayoritas dari Kabupaten Malang dan sebagian dari Kota Malang ini berkumpul di depan Stasiun Kota Baru.

Awalnya petugas Polres Malang Kota hanya memberikan pembinaan dan meminta mereka untuk pulang. Namun sekitar pukul 16.00, para pelajar semakin banyak berdatangan dan dalam jumlah besar.

Petugas semakin tegas melakukan razia. Ironisnya beberapa diantara mereka ada yang membawa sajam berupa pisau bergerigi, gear, roti kalung dan juga ada yang membawa rantai.

Petugas akhirnya.mengamankan mereka dari beberapa lokasi. Jumlahnya cukup banyak dan masih terus di data. Dari data awal yang diperoleh Memontum, jumlah yang diamankan mencapai 108 anak.

Mereka kemudian dibawa ke Mapolres Malang Kota untuk mendapatkan pembinaan. Orang tua mereka dipanggil satu persatu untuk datang ke Polres Malang Kota.

Kapolres MalangnKota AKBP Dony Alexander SIK MH, para pelajar ini datang karena mendapat informasi broadcast yang tersebar di WhatsApp.

“Gril Pelajar Bersatu. Disana ada Broadcast yang m3ngajak adik-adik sekolah menangah atas untuk berkumpul di depan Stasiun. Dari sinilah kami mengecek wilayab dan ternyata benar mereka datang karena ajakan dari pesan broadcast tersebut,” ujar AKBP Dony.

Para pelajar ini datang dari berbagai daerah diantaranya Singosari, Turen, Bululawang dan beberapa daerah lainnya di Kabupaten Malang. Sebagian juga ada yang datang dari Kota Malang.

“Mereka mengikuti ajakan di broadcast itu. Diantaranya ada yang bawa Sajam, Gear dan juga Pil Koplo. Tadi kami bersama Pak Dandim Kota Malang memberikan nasehat kepada adik-adik ini agar tidak salah kaprah dan tidak dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” ujar AKBP Dony.

Pihaknya saat ini masih melakukan pencarian orang yang telah menyebar bradcast tersebut.

Baca : Boncengan 3 Bawa Ruyung 6 ABG Diamankan Petugas

“Adik-adik ini tidak tahu tujuannya apa hanya mengikuti ajakan dari broadcast. Tim kami masih menelusuri siapakah otak yang mengajak anak-anak ini untuk bolos sekolah atau pulang sekolah untuk berkumpul di Kota Malang dan akan melakukan hal-hal yang merugikan keamanan di Kota Malang,” ujar AKBP Dony.

Orang tua dari para pelajar ini mulai terlihat berdatangan di Kota Malang sekitar pukul.18.00. Mereka datang untuk melakukan penjemputan anak-anaknya di Mapolres Malang Kota.

“Kami akan kembalikan ke orang tuanya masing-masing. Tencananya besik juga kita akan bertemu dentan para Kepala Sekolah di Kota Malang,” ujar AKBP Dony. (gie/oso)

 

Selanjutnya

Hukum & Kriminal

Boncengan 3 Bawa Ruyung 6 ABG Diamankan Petugas

Diterbitkan

-

Oleh

Petugas saat mengamankan ML, karena bawa ruyung tak jauh dari gedung DPRD Kota Malang. (gie)

Memontum, Kota Malang – Petugas gabungan Polres Malang Kota melakukan sejumlah razia di sekitaran Jl Trunojoyo- Jl Kertanegara dan Jl Majapahit, dan sekitaran bundaran Tugu Kota Malang. Dikarenakan terlihat banyak anak-anak setingkat SMA yang bergerombol dan berdatangan di sekitaran Jl Kertanegara, pada Kamis (26/9/2019) pukul 15.00.

Petugas merazia sajam dikuatirkan adanya penysup provokasi saat terjadinya demo di depan Kantor DPRD Kota Malang yang informasinya bakal terjadi pada Kamis sore. Saat petugas sedang berkeliling nampak 6 ABG (Anak Baru Gede) mengendarai 2 motor yang masing-masing boncengan 3 tanpa memakai helm menuju area sekitaran Gedung DPRD.

Karena melanggar lalu lintas, petugas segera menghentikan laju motor Yamaha Vaga dan GL Max tersebut di Jl Kertanegara. Saat dilakukan pengeledahan, salah satunya yakni betinisial Ml (16) warga Krebet, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang, kedapatan membawa sebuah tuyung yang di selipkan di pinggangnya.

Terang saja ruyung tersebut segera diamankan petugas. Mereka mengaku berangkat dari Turen dan Bululwang , Kabupaten Malang, untuk kumpul-kumpul di Jl Kertanegara.

“Ruyung ini tidak untuk demo, tapi untuk latihan silat,” ujar Ml.

Ke 6 ABG ini tampak berbelit-belit tidak jelas tujuannya hingga segera saja ditilang karena melanggar lalu lintas boncengan tiga tanpa helm. Setelah mendapat sanksi tilang, ke enam anak itu diminta oleh petugas untuk pulang.

Sementara itu disekitaran Jl Trunojoyo, petugas mendapati beberapa pelajar setingkat SMA membawa beberapa poster. “Kami datang dari Singosari. Kami kesini katanya ada demo,” ujar salah satu anak, sebelum diimbau oleh petugas untuk pulang. (gie/oso)

 

Selanjutnya

Hukum & Kriminal

Mahasiswi UB Bikin Laporan Perkosaan Palsu, Sakit Hati, Ingin Jebloskan Teman ke Penjara

Diterbitkan

-

Oleh

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi SIK MH. (gie)

Memontum Kota Malang – Kasus perkosaan yang dilaporkan oleh RN (18) mahasiswi UB asal Kebayoran Lama, Jakarta, pada 29 Agustus 2019 siang, ternyata palsu. Hal itu disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Arya Wiguna SH SIK pada Rabu (25/9/2019) pukul 16.30.

AKP Komang menjelaskan bahwa hasil dari penjelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, diketahui kalau laporan RN palsu. Motifnya karena AL (20) kekasih dari RN, sakit hati kepada BE (22), teman kampusnya yang menjadi terlapor dalam kasus ini. AL awalnya menuduh RN ada cinta segitiga yakni memiliki hubungan dengan BE. . Membuktikan kesetiaanya, AL menyuruh RN, kekasihnya membuat laporan palsu kasus perkosaan untuk menjebloskan BE ke penjara.

“Laporan itu kami dalami. Dari penyelidikan dan keterangan saksi-saksi bahwa BE, selaku terlapor, saat kejadian sedang mengikuti perkuliahan. Ada ketidaksamaan dalam laporan ini. Ternyata laporan perkosaan itu tidak benar. Laporan palsu itu atas permintaan AL, pacar pelapor. Dia disuruh memberikan keterangan palsu. Motifnya karena AL merasa tidak suka dengan BE. Pelapor juga membenarkan kalau ternyata laporannya adalah palsu,” ujar AKP Komang.

Selama 3 minggu, petugas Polres Malang Kota terus melakukan penyelidikan hingga menemukan kebenaran bahwa laporan perkosaan itu adalah palsu. Tentunya memberikan laporan palsu ada sanksi pidananya. Yakni Pasal 242 ayat 1KUHP dengan ancaman penjara selama 7 tahun.

” Kalau membuat laporan palsu ada konsekuensinya sudah fiatir Pasal 242 ayat 1 KUHP ancamannya 7 tahun penjara. Selain itu kalau ada yang dirugikan dan keberatan dengan laporan palsu ini, bisa melapor. Kami masih melakukan pendalaman untuk menentukan tersangkanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Petugas Polres Malang Kota hingga Senin (23/9/2019) siang, masih terus melalukan penyelidikan terkait laporan kasus pemerkosaan yang dialami oleh seorang mahasiswi yakni RN (18) , warga asal Kebayoran Lama. RN melapor kan kasus perkosaan yang dialaminya pada 29 Agustus 2019 pukul 13.30 di parkiran Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Saat itu Bunga mengaku diperkosa di dalam mobilnya oleh BE (22), teman kampusnya.

Baca : Dipaksa Hohohihe di Dalam Mobil di Parkiran Kampus, Mahasiswi UB Lapor ke Polisi

Informasi Memontum, bahwa RN sudah mengenal BE yang tak lain adalah pacar temannya. Dalam laporannya RN memyebut bahwa sebelum kejadian dia berada di dalam mobilnya sambil bermain ponsel sambil menunggu pacarnya yang sedang kukiah.

Tiba-tiba kaca mobilnya ketuk oleh BE meminta RN untuk membuka pintu. Karena tidak ada firasat buruk, RN membuka pintu dan keluar dari dalam mobil. Saat itulah BE masuk ke dalam mobil milik RN.

Diwaktu yang hampir bersamaan, RN ditarik masuk ke dalam mobil dan semua pintu dan kaca jendela ditutup rapat. Saat itulah kemudian terjadi pemerkosaan terhadap RN. Karena tidak menerimakan dengan adanya kejadian itu, pada sore harinya, RN langsung melapor ke Polres Malang Kota. Petugas Polres Malang Kota masih terus mendalami laporan ini termasuk memerikaa sejumlah saksi.

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander SIK MH saat dikonfirmasi Memontum.com pada Sabtu (21/9/2019) siang, membenarkan adanya laporan itu.

” Proses penyelidikan sudah sesuai prosedural. Akan kami sampaikan pada Selasa (24/9/2019) saat kita laksanakan rilis,” ujar AKBP Dony. (gie/yan)

 

Selanjutnya

Terpopuler

Lewat ke baris perkakas