Hukum & Kriminal

pariwisata kabupaten jember
iklan PT. BSI

Sidang Bendera Palu Arit, Massa Diluar Pengadilan Nyaris Ricuh

  • Rabu, 10 Januari 2018 | 15:59
  • / 22 Rabiul Akhir 1439
  • Dibaca : 168 kali
Sidang Bendera Palu Arit, Massa Diluar Pengadilan Nyaris Ricuh
Massa dari warga Pesanggaran saat orasi diluar PN Banyuwangi

Memontum Banyuwangi — Sidang kasus bendera berlogo palu arit di Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur, dengan agenda pembacaan pledoi, berlangsung panas, Selasa (9/1/2018). Diluar ruang sidang, massa Nasionalis dan Nahdlatul Ulama (NU) nyaris ricuh dengan massa pendukung terdakwa, Hari Budiawan alias Budi Pego.
Bermula dengan orasi saling olok, emosi pun mulai tersulut.

Sekitar 10 orang kelompok pro Budi Pego tiba-tiba menerobos menghampiri massa Nasionalis yang diwakili oleh Pemuda Pancasila (PP), dan massa NU yang terdiri dari perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), Forum Suara Blambangan (Forsuba) dan Forum Peduli Umat Indonesia (FPUI), yang berjarak sekitar 200 meter. Tak pelak, situasi pun langsung tegang.

Untung petugas Kepolisian Polres Banyuwangi, yang berjaga dilokasi sigap. Massa pendukung Budi Pego yang telah merangsek dipaksa kembali ke barisan. “Kawan kami Budi Pego adalah korban kriminalisasi tolak tambang,” teriak lantang orator.

Diduga lantaran terlanjur terbakar amarah, aksi saling olok kedua kubu massa pun terus berlanjut hingga persidangan berakhir. Tak ingin kecolongan lagi, Polisi pun berjaga diantara kedua massa.

Dalam sidang, kesimpulan Pledoi dari pengacara terdakwa, Rifai SH, menyebut bahwa kliennya bukanlah koordinator aksi. Dan spanduk bergambar mirip lambang Partai Komunis Indonesia (PKI) juga tidak ditemukan.

Selanjutnya, proses sidang demo berlogo palu arit yang dipimpin Ketua Majelis Hakim, Putu Endru Sonata SH, akan kembali digelar pada Kamis 11 Januari 2018 mendatang. Dengan agenda jawaban Pledoi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Forsuba, H Abdillah Rafsanjani, mengajak seluruh masyarakat untuk lebih berfikir terbuka. Membedakan antara kasus demo berlogo palu arit dan kriminalisasi tolak tambang. Dia juga menegaskan, yang menjadi semangat perjuangan dirinya bersama massa Nasionalis dan Nahdliyin, indikasi kemunculan PKI gaya baru di Indonesia dalam aksi demo di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, 4 April 2017 lalu.
Apalagi tentang bahaya Laten Komunis, Banyuwangi, memang punya sejarah kelam. 62 orang kader GP Ansor setempat telah menjadi korban kekejaman PKI pada 18 Oktober 1965 di Dusun Cemetuk, Desa Cluring, Kecamatan Cluring.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional